Kenali Kandungan Gizi sebelum Memilih Susu
- 02 Sep 2026 16:28 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Memilih susu di pasaran kini tidak lagi sesederhana menentukan antara susu sapi rendah lemak atau susu tanpa lemak. Beragam pilihan susu nabati, seperti susu kedelai, oat, almond, kelapa, dan beras, membuat konsumen perlu lebih cermat dalam mempertimbangkan kandungan gizinya.
Selama bertahun-tahun, susu rendah lemak dan susu tanpa lemak lebih banyak dianjurkan karena kandugnan lemak jenuhnya lebih rendah. Lemak jenuh diketahui dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL yang berkaitan dengan risiko penyakit jantung dan stroke.
Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa penelitian terbaru menunjukkan bahwa lemak jenuh yang berasal dari produk susu belum tentu memberikan dampak yang sama dengan lemak jenuh dari sumber makanan lainnya. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition pada Desember 2025 bahkan menemukan bahwa orang dewasa muda yang paling banyak mengonsumsi produk susu berlemak penuh memiliki risiko pengapuran pembuluh darah koroner 24 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang paling sedikit mengonsumsinya.
Meski demikian, para ahli menilai temuan tersebut tidak berarti semua orang perlu beralih ke susu tinggi lemak. Susu sapi tetap memiliki kandungan protein, kalsium, vitamin D, vitamin B12, kalium, fosfor, dan magnesium yang relatif serupa pada berbagai jenis kadar lemak, sedangkan perbedaan utamanya terletak pada jumlah kalori dan lemak.
Dalam satu cangkir, susu sapi murni mengandung sekitar 150 kalori dan 5 gram lemak jenuh. Sementara itu, susu rendah lemak 2 persen mengandung sekitar 122 kalori dan 3 gram lemak jenuh, susu 1 persen sekitar 106 kalori dan 1 gram lemak jenuh, sedangkan susu tanpa lemak hanya sekitar 84 kalori tanpa lemak jenuh.
Di sisi lain, susu kedelai menjadi salah satu pilihan nabati yang memiliki kandungan protein cukup tinggi. Satu cangkir susu kedelai tanpa pemanis mengandung sekitar 70 kalori, 7 gram protein, dan tidak mengandung lemak jenuh, serta dapat diperkaya dengan kalsium dan vitamin D.
Susu oat juga semakin populer karena mengandung serat larut jenis beta-glukan yang diketahui baik untuk kesehatan jantung. Meski demikian, kandungan proteinnya lebih rendah daripada susu sapi dan susu kedelai, sementara satu cangkir susu oat tanpa pemanis mengandung sekitar 120 kalori.
Susu almond menawarkan jumlah kalori yang relatif rendah, yakni sekitar 40 kalori per cangkir dalam versi tanpa pemanis. Minuman ini mengandung lemak tak jenuh, vitamin E, kalsium, dan kalium, tetapi kandungan proteinnya tergolong rendah.
Susu kelapa untuk diminum juga memiliki karakteristik berbeda dibandingkan susu kelapa dalam kemasan kaleng yang biasa digunakan untuk memasak. Versi minuman tanpa pemanis mengandung sekitar 45 kalori per cangkir, tetapi umumnya rendah protein dan memiliki kandungan lemak jenuh yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah pilihan susu lainnya.
Sementara itu, susu beras dapat menjadi alternatif bagi orang yang memiliki alergi terhadap kedelai atau kacang-kacangan. Kandungan proteinnya relatif sedikit, tetapi banyak produk telah diperkaya dengan kalsium serta vitamin A, B12, dan D.
Para ahli mengingatkan bahwa susu nabati tidak otomatis lebih sehat hanya karena berasal dari tumbuhan. Konsumen sebaiknya memeriksa label untuk memastikan produk mengandung kalsium dan vitamin D yang cukup serta memilih produk tanpa atau rendah gula tambahan.
Pada akhirnya, tidak ada satu jenis susu yang paling sehat untuk semua orang karena kebutuhan setiap individu berbeda. Pilihan terbaik adalah susu yang sesuai dengan kebutuhan gizi, kondisi kesehatan, pola makan, serta preferensi masing-masing, dengan tetap memperhatikan kandungan gula, lemak jenuh, protein, kalsium, dan vitamin D.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....