Tak Disangka, Omega-3 Sidat Lampaui Kandungan Salmon

  • 29 Agt 2026 13:08 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Ikan sidat menjadi salah satu komoditas perikanan Indonesia yang memiliki kandungan gizi tinggi. Selain mengandung asam lemak Omega-3, ikan ini juga memiliki sejumlah nutrisi penting seperti protein, vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, fosfor, dan kalori. Kandungan tersebut membuat sidat berpotensi menjadi sumber pangan bergizi bagi masyarakat.

Mengutip laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sabtu, 29 Agustus 2026, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Gadis Sri Haryani, menyebut kandungan Omega-3 pada sidat tergolong sangat tinggi. Bahkan, sidat disebut memiliki nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan salmon dan ikan gabus yang selama ini dikenal sebagai sumber ikan dengan kandungan nutrisi baik.

Kandungan penting lainnya yang terdapat pada ikan sidat adalah Docosahexaenoic Acid (DHA) dan Eicosapentaenoic Acid (EPA). Kedua jenis asam lemak tersebut termasuk Omega-3 yang dibutuhkan tubuh. DHA berperan dalam mendukung perkembangan dan fungsi otak, sedangkan EPA berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan jantung serta membantu tubuh dalam mengendalikan proses peradangan.

Selain manfaat dari sisi gizi, sidat juga memiliki nilai ekonomi yang cukup strategis bagi sektor perikanan Indonesia. Komoditas ini dapat dikembangkan sebagai sumber pangan maupun produk perikanan bernilai ekonomi. Namun, peningkatan pemanfaatan sidat harus diikuti dengan pengelolaan yang tepat agar aktivitas penangkapan dan budidaya tidak mengganggu keberlangsungan populasinya.

Menurut Gadis, ikan sidat memiliki siklus hidup katadromus, yakni sebagian besar kehidupannya berlangsung di perairan tawar, tetapi ikan tersebut bermigrasi ke laut untuk melakukan pemijahan. Setelah menetas di laut, sidat berada dalam bentuk larva yang disebut leptocephalus. Larva ini memiliki karakteristik tubuh yang pipih, transparan, dan menyerupai daun.

Dalam perjalanan menuju wilayah estuari atau muara sungai, larva sidat mengalami perubahan bentuk dan memasuki fase yang dikenal sebagai glass eel atau sidat kaca. Setelah melalui tahapan tersebut, sidat melanjutkan pertumbuhannya di lingkungan perairan tawar. Siklus kehidupan yang melibatkan perpindahan antara laut dan sungai tersebut membuat kondisi habitat dan jalur migrasi menjadi bagian penting dalam keberlangsungan populasi sidat.

BRIN menekankan pentingnya pengelolaan sidat berdasarkan pendekatan ilmiah dan prinsip keberlanjutan. Pemanfaatan yang tidak terkendali dikhawatirkan dapat menekan populasi sidat di alam. Karena itu, pengembangan sidat sebagai sumber pangan dan komoditas ekonomi perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga habitat, mengendalikan eksploitasi, serta mempertahankan keberlanjutan sumber daya perikanan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....