Musik Bantu Redakan Nyeri dan Pulihkan Gerak Pascastroke

  • 19 Agt 2026 11:21 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Musik selama ini dikenal sebagai hiburan yang mampu membangkitkan suasana hati dan kenangan. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa musik juga berpotensi dimanfaatkan sebagai bagian dari terapi untuk membantu mengurangi rasa nyeri serta mendukung pemulihan fungsi gerak pada pasien dengan gangguan saraf.

Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa salah satu gambaran menarik terlihat dalam film dokumenter Alive Inside yang dirilis pada 2014. Dalam film tersebut, seorang penghuni panti jompo berusia 94 tahun dengan demensia tampak lebih bersemangat setelah mendengarkan lagu yang dikenalnya sejak masa muda, bahkan kembali bernyanyi dan menceritakan kenangan yang berkaitan dengan lagu tersebut.

Fenomena semacam itu membuat para ilmuwan terus mempelajari hubungan antara musik dan sistem saraf manusia. Musik yang akrab dapat memunculkan kembali ingatan serta respons emosional, sementara rangsangan berirama tertentu berpotensi membantu mengatur gerakan berjalan pada penderita Parkinson dan pasien yang mengalami stroke.

Menurut penelitian mengenai ilmu saraf musik, otak tidak sekadar menerima suara sebagai rangsangan pendengaran. Ketika seseorang mendengarkan musik, berbagai jaringan otak yang berkaitan dengan gerakan, ingatan, emosi, perhatian, prediksi, dan sistem penghargaan turut bekerja untuk mengenali serta mengikuti pola irama.

Peneliti dari University of Connecticut, Edward Large, mengembangkan teori resonansi saraf yang menjelaskan bahwa aktivitas saraf manusia dapat menyesuaikan diri dengan ketukan musik dari luar. Penelitian menggunakan magnetoensefalografi juga menemukan aktivitas otak pada frekuensi ketukan yang sebenarnya tidak terdengar secara langsung, menunjukkan bahwa otak dapat membentuk pola irama secara internal.

Irama musik juga diduga berpengaruh terhadap persepsi nyeri. Penelitian yang dilakukan Caroline Palmer dan timnya di McGill University menemukan bahwa peserta penelitian mengalami rasa nyeri paling rendah ketika musik dimainkan dengan tempo yang sesuai dengan kecepatan alami mereka saat mengetukkan jari mengikuti melodi yang sudah dikenal.

Meski demikian, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa musik dapat menggantikan obat pereda nyeri. Hasilnya lebih menunjukkan bahwa manfaat musik kemungkinan dipengaruhi oleh kesesuaian tempo dengan ritme alami tubuh setiap individu.

Peneliti juga mengeksplorasi penggunaan rangsangan suara dengan frekuensi tertentu untuk memengaruhi aktivitas otak. Salah satu yang menjadi perhatian adalah aktivitas gamma, yaitu gelombang saraf berfrekuensi tinggi yang berkaitan dengan sejumlah fungsi, termasuk perhatian, persepsi, dan ingatan.

Dalam penelitian pada tikus yang mengalami kondisi menyerupai penyakit Alzheimer, paparan suara dengan frekuensi 40 hertz selama beberapa hari meningkatkan aktivitas saraf pada frekuensi tersebut dan mengurangi sejumlah tanda penumpukan amiloid di otak. Namun, temuan pada hewan belum dapat langsung dianggap sebagai bukti bahwa metode serupa efektif mengobati manusia, sehingga penelitian lebih lanjut masih diperlukan.

Potensi musik sebagai terapi juga mulai dikembangkan untuk membantu pemulihan kemampuan berjalan setelah stroke. Salah satu teknologi menggunakan sensor yang dipasang pada sepatu untuk membaca pola berjalan secara langsung, kemudian menyesuaikan tempo musik dan ketukan agar pengguna dapat mempertahankan irama langkahnya.

Dalam penelitian terhadap 87 orang dewasa dengan gangguan berjalan kronis setelah stroke, peserta yang menggunakan sistem rangsangan suara berirama selama lima minggu mengalami peningkatan kecepatan berjalan yang lebih baik dibandingkan kelompok yang mengikuti program berjalan aktif. Sebanyak 40 persen pengguna sistem tersebut mencapai peningkatan yang dinilai bermakna secara klinis, sedangkan pada kelompok pembanding angkanya mencapai 13 persen.

Penelitian lain pada penderita Parkinson juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Peserta yang berjalan dengan bantuan sistem musik otomatis mengalami peningkatan rata-rata ribuan langkah setiap hari selama masa penelitian, meskipun manfaat tersebut tidak lagi terlihat setelah penggunaan perangkat dihentikan.

Para peneliti menilai, masa depan terapi berbasis musik tidak hanya bergantung pada lagu yang dipilih. Tempo, irama, melodi, tingkat keakraban terhadap lagu, serta makna emosionalnya kemungkinan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap pasien.

Dengan demikian, musik berpeluang berkembang dari sekadar sarana hiburan menjadi bagian dari pendekatan rehabilitasi saraf yang lebih personal. Meski hasil penelitian awal cukup menjanjikan, para ilmuwan menegaskan bahwa diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan efektivitas, keamanan, serta manfaat jangka panjang terapi berbasis irama dan musik bagi pasien.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....