Bukan Cuma Kepribadian, Kondisi Usus Diduga Memengaruhi Respons terhadap Stres

  • 18 Agt 2026 20:56 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Situasi yang sama tidak selalu menghasilkan respons stres yang sama pada setiap orang. Saat menghadapi tekanan, sebagian orang dapat terlihat tenang, sementara lainnya menunjukkan reaksi emosional maupun fisik yang lebih kuat. Penelitian terbaru menunjukkan, perbedaan tersebut tidak hanya dipengaruhi genetika, kepribadian, dan pengalaman hidup, tetapi kemungkinan juga berkaitan dengan mikrobioma usus.

Studi berjudul “Gut microbial diversity and inferred capacity to produce short-chain fatty acids are associated with acute stress reactivity in healthy adults” yang diterbitkan dalam Neurobiology of Stress menemukan adanya hubungan antara keragaman mikrobioma usus dan respons terhadap stres akut. Orang dewasa sehat dengan mikrobioma usus yang lebih beragam menunjukkan respons kortisol dan respons stres yang dirasakan lebih kuat setelah menghadapi tekanan. Temuan ini tidak serta-merta berarti mereka lebih buruk dalam mengatasi stres.

Dikutip dari nationalgeographic Dokter Penn State Health, Timothy Riley, menjelaskan stres merupakan reaksi alami ketika seseorang menghadapi tantangan, tuntutan, atau potensi ancaman. Saat otak mendeteksi ancaman, amigdala dapat memicu respons yang diteruskan ke hipotalamus sebagai pusat koordinasi sistem stres. Kondisi tersebut dapat membuat jantung berdebar, napas lebih cepat, otot menegang hingga menimbulkan gangguan pencernaan.

Peneliti Thomas Karner dari University of Vienna menjelaskan, usus dan otak terus berkomunikasi melalui poros usus-otak. Mikrobioma dan senyawa yang dihasilkannya dapat memengaruhi bagaimana tubuh merespons tantangan serta mengatur hormon stres. Sebaliknya, stres juga dapat mengubah komposisi mikrobioma, memengaruhi penghalang usus dan peradangan, serta mengubah produksi metabolit mikroba seperti asam lemak rantai pendek.

Menariknya, respons stres yang lebih kuat tidak selalu menunjukkan kondisi yang lebih buruk. Stres akut dalam waktu singkat dapat membantu tubuh memobilisasi energi dan meningkatkan fokus untuk menghadapi ancaman. Karena itu, menurut Karner, keragaman mikrobioma yang lebih tinggi mungkin berkaitan dengan respons stres yang lebih fleksibel dan adaptif. Namun, hubungan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Hal yang berbeda terjadi pada stres kronis. Aktivasi sistem stres yang berlangsung lama atau berulang akibat kekhawatiran, tekanan sosial, ketidakpastian, hingga tuntutan pekerjaan tanpa pemulihan yang cukup dapat berdampak pada otak, sistem kekebalan tubuh, hormon stres, dan mikrobioma. Peneliti masih mempelajari apakah mikrobioma yang lebih beragam dapat membantu tubuh lebih tahan terhadap gangguan akibat stres berkepanjangan.

Selain kondisi usus, respons seseorang terhadap stres juga dipengaruhi berbagai faktor lain. Genetika dapat menentukan tingkat reaktivitas sistem stres, sementara pengalaman hidup, termasuk pengalaman traumatis, dapat memengaruhi regulasi stres melalui mekanisme epigenetik. Pengalaman sehari-hari juga membentuk cara seseorang menilai dan menghadapi situasi yang dianggap mengancam.

Kepribadian turut memainkan peran. Studi dalam Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan orang dengan tingkat neurotisisme lebih tinggi cenderung mengalami reaksi emosional yang lebih kuat pada hari-hari penuh tekanan. Sebaliknya, sifat seperti keramahan, keteraturan, disiplin diri, dan keterbukaan terhadap pengalaman baru cenderung berkaitan dengan lonjakan emosi yang lebih kecil. Meski demikian, faktor-faktor tersebut bukan batasan permanen terhadap kemampuan seseorang menghadapi stres.

Pada akhirnya, tidak ada satu gen, karakter kepribadian, maupun jenis mikroba yang dapat menentukan bagaimana seseorang menghadapi tekanan. Respons stres merupakan hasil interaksi kompleks antara otak, tubuh, pengalaman hidup, lingkungan, dan kondisi yang sedang dihadapi. Penelitian mengenai poros usus-otak kini membuka perspektif baru tentang bagaimana kesehatan pencernaan mungkin menjadi salah satu bagian dari cara tubuh beradaptasi terhadap stres.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....