Skrining TBC Tak Hanya Cari Kasus, tapi Cegah Penularan Meluas
- 14 Agt 2026 17:58 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperluas skrining tuberkulosis atau TBC secara aktif dengan menyasar pesantren dan permukiman padat penduduk di seluruh Indonesia. Langkah ini tidak hanya ditujukan untuk menemukan penderita TBC yang belum terdiagnosis, tetapi juga menjadi upaya mencegah penularan penyakit semakin meluas di masyarakat.
Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada Kamis, 13 Agustus 2026, TBC masih menjadi penyakit menular dengan angka kematian tertinggi di Indonesia, dengan sekitar 120 ribu kematian setiap tahun. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penemuan kasus TBC sejak dini menjadi salah satu kunci untuk menekan penularan dan kematian akibat penyakit tersebut.
Menurut Budi, salah satu persoalan dalam pengendalian TBC adalah penderita sering kali tidak mengetahui dirinya sakit karena skrining terlambat atau belum dilakukan. Padahal, obat TBC telah tersedia dan efektif untuk menyembuhkan penyakit apabila penderita ditemukan lebih awal serta menjalani pengobatan sesuai ketentuan.
“Penyakit ini ribuan tahun sudah ada, obatnya sudah ada dan manjur, kalau minum obat pasti sembuh, masalahnya adalah ketidaktahuan warga tersebut kalau dia sedang sakit TB karena skrining-nya terlambat atau tidak dilakukan,” ujar Budi.
Kemenkes kini memanfaatkan rontgen dada berbasis Artificial Intelligence atau AI untuk memperluas jangkauan skrining TBC hingga ke masyarakat. Teknologi tersebut memungkinkan pemeriksaan dilakukan menggunakan perangkat yang lebih ringkas dan portabel, sehingga petugas tidak harus menunggu masyarakat datang ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan.
“Sekarang teknologi baru, alatnya kecil bisa digendong, dibawa pakai motor, dengan demikian, kita bisa melakukan skrining ke masyarakat, tidak harus menunggu mereka datang ke rumah sakit,” kata Budi. Kemenkes menyiapkan sekitar 10 ribu unit rontgen yang akan didistribusikan secara bertahap ke puskesmas untuk mendekatkan layanan pemeriksaan kepada masyarakat.
Pesantren menjadi salah satu sasaran prioritas karena kepadatan hunian dapat meningkatkan risiko penularan apabila terdapat penderita TBC yang belum ditemukan dan mendapatkan pengobatan. Kemenkes mencatat, skrining TBC secara umum rata-rata menemukan sekitar 0,3 persen kasus, sedangkan skrining di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan menemukan sekitar tiga persen kasus atau sekitar sepuluh kali lebih tinggi.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, mengatakan penanggulangan TBC tidak cukup dilakukan dengan menunggu masyarakat datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Pemerintah perlu secara aktif mendatangi masyarakat, terutama kelompok yang berada di lingkungan dengan risiko penularan lebih tinggi seperti pesantren dan permukiman padat penduduk.
Melalui skrining aktif, penderita TBC yang sebelumnya tidak mengetahui kondisi kesehatannya dapat ditemukan dan segera mendapatkan pengobatan. Kemenkes bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah terus memperkuat kolaborasi agar penemuan kasus dan pengobatan TBC dapat menekan angka kejadian serta kematian menuju eliminasi TBC pada 2030.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....