Stres dan Penyakit Kulit Saling Memengaruhi Kondisi Kesehatan Mental

  • 22 Jul 2026 12:45 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Selama bertahun-tahun, gangguan kulit seperti eksim, jerawat, dan psoriasis lebih sering dikaitkan dengan masalah psikologis akibat perubahan penampilan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hubungan antara penyakit kulit kronis dan kesehatan mental ternyata jauh lebih kompleks karena melibatkan proses biologis di dalam tubuh.

Para ilmuwan menemukan adanya sistem komunikasi dua arah antara kulit dan otak yang dikenal sebagai skin-brain axis. Jalur ini menghubungkan sistem saraf, sistem kekebalan tubuh, dan hormon sehingga kondisi pada kulit dapat memengaruhi kesehatan mental, begitu pula sebaliknya.

Dilansir dari laman www.nationalgeographic.com penelitian menunjukkan bahwa sekitar tiga dari sepuluh penderita penyakit kulit kronis juga mengalami gangguan kecemasan atau depresi. Temuan tersebut mendorong para peneliti untuk mengembangkan pendekatan pengobatan yang tidak hanya berfokus pada kulit, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis pasien.

Hubungan antara kulit dan otak sebenarnya telah terbentuk sejak manusia masih berada dalam kandungan karena keduanya berkembang dari lapisan embrio yang sama. Sepanjang hidup, keduanya terus saling berkomunikasi melalui sinyal saraf, hormon, dan respons sitem imun yang memengaruhi fungsi masing-masing.

Ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan meningkatkan produksi hormon seperti kortisol dan adrenalin yang dapat memicu peradangan pada kulit. Kondisi tersebut juga merangsang produksi minyak berlebih sehingga pori-pori lebih mudah tersumbat dan jerawat menjadi semakin parah.

Sebaliknya, peradangan kronis pada kulit juga dapat mengirimkan sinyal ke otak melalui molekul sistem imun yang disebut sitokin. Molekul ini diduga memengaruhi zat kimia di otak yang berperan dalam mengatur suasana hati, kualitas tidur, serta respons terhadap stres, sehingga meningkatkan risiko depresi dan kecemasan.

Sejumlah penelitian bahkan menemukan adanya pola respons imun yang serupa pada penderita depresi dan penyakit kulit inflamasi. Temuan ini membuka peluang bahwa obat-obatan yang selama ini digunakan untuk mengatasi peradangan kulit suatu saat dapat dimanfaatkan sebagai terapi tambahan bagi sebagian penderita gangguan mental.

Para ahli menilai bahwa layanan kesehatan saat ini masih memisahkan penanganan penyakit kulit dan kesehatan jiwa. Padahal, pemeriksaan kondisi psikologis secara rutin di klinik dermatologi dapat membantu mengidentifikasi pasien yang membutuhkan penanganan lebih menyeluruh.

Perkembangan ilmu pengetahuan juga melahirkan bidang baru seperti psikodermatologi presisi yang memanfaatkan data biologis, faktor psikologis, dan kecerdasan buatan untuk menentukan terapi yang paling sesuai bagi setiap pasien. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan pengobatan yang lebih efektif karena mempertimbangkan penyebab penyakit yang berbeda pada setiap individu.

Temuan-temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa penyakit kulit bukan sekadar masalah pada permukaan tubuh. Para peneliti kini semakin meyakini bahwa kesehatan kulit, sistem kekebalan tubuh, dan kesehatan mental saling berkaitan sehingga penanganannya memerlukan pendekatan yang terpadu dan menyeluruh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....