Masih Ingin Makan meski Sudah Kenyang? Ini Penjelasan Ilmiahnya

  • 20 Jun 2026 16:16 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Pernah merasa perut sudah penuh setelah makan, tetapi keinginan untuk terus mengunyah atau mencari camilan masih muncul? Kondisi ini ternyata cukup umum dan tidak selalu berkaitan dengan kurangnya pengendalian diri.

Banyak orang menganggap rasa lapar dan kenyang merupakan dua kondisi yang saling berlawanan. Namun, para ahli menjelaskan bahwa proses tersebut jauh lebih kompleks karena melibatkan kerja hormon, otak, pola makan, hingga kondisi psikologis seseorang.

Mengutip laman FODMAP Everyday, keinginan untuk makan setelah merasa kenyang dapat dipengaruhi oleh ketidakseimbangan sinyal antara hormon ghrelin yang memicu rasa lapar dan leptin yang membantu tubuh merasa kenyang. Ketika komunikasi kedua hormon tersebut terganggu, seseorang bisa tetap ingin makan meskipun kebutuhan energinya sebenarnya sudah terpenuhi.

Selain faktor hormon, jenis makanan yang dikonsumsi juga berperan penting. Makanan ultra-proses seperti makanan cepat saji, camilan kemasan, atau produk tinggi gula dan lemak diketahui dapat mengganggu sinyal kenyang alami tubuh. Akibatnya, seseorang dapat merasa perutnya penuh, tetapi otak belum menerima sinyal kepuasan yang cukup.

Kebiasaan makan sambil menonton televisi, bermain ponsel, atau bekerja juga dapat memengaruhi rasa puas setelah makan. Saat perhatian teralihkan, otak tidak sepenuhnya merekam pengalaman makan sehingga rasa kenyang cenderung lebih cepat menghilang dan memicu keinginan untuk kembali mengonsumsi makanan.

Faktor lain yang kerap luput diperhatikan adalah komposisi makanan. Hidangan yang tinggi karbohidrat sederhana tetapi rendah protein, serat, dan lemak sehat dapat membuat perut terasa penuh dalam waktu singkat. Namun, tubuh tetap mengirimkan sinyal bahwa kebutuhan nutrisi belum terpenuhi sehingga muncul dorongan untuk makan lagi.

Para peneliti juga menyoroti peran sistem penghargaan di otak atau reward system. Dalam kondisi stres, lelah, atau bosan, otak dapat mendorong seseorang mencari makanan manis, asin, atau berlemak untuk mendapatkan rasa nyaman. Fenomena ini dikenal sebagai "hedonic hunger", yaitu keinginan makan yang muncul bukan karena kebutuhan energi, melainkan karena faktor emosional.

Penyebab lain yang bisa meningkatkan rasa lapar adalah kurang tidur dan stres berkepanjangan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk dapat meningkatkan produksi hormon pemicu lapar sekaligus menurunkan hormon yang memberikan sinyal kenyang. Kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah tergoda untuk makan berlebihan sepanjang hari.

Kecepatan makan pun turut berpengaruh. Tubuh membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 menit untuk mengirimkan sinyal kenyang dari saluran pencernaan ke otak. Karena itu, makan terlalu cepat dapat membuat seseorang mengonsumsi makanan lebih banyak sebelum otak menyadari bahwa kebutuhan tubuh sebenarnya sudah tercukupi.

Para ahli menyarankan masyarakat untuk makan secara perlahan, memperbanyak konsumsi protein dan serat, mengurangi makanan ultra-proses, serta menjaga kualitas tidur agar sinyal lapar dan kenyang dapat bekerja secara optimal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....