Benarkah Biji Cabai Sebabkan Usus Buntu? Ini Penjelasan Dokter

  • 09 Jun 2026 19:57 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Anggapan bahwa mengonsumsi cabai atau jambu beserta bijinya dapat langsung menyebabkan usus buntu masih banyak dipercaya masyarakat. Namun, dokter menegaskan bahwa biji makanan bukanlah penyebab utama terjadinya penyakit usus buntu.

Dalam Dialog Astacita Bogor Pagi edisi Selasa, 9 Juni 2026, Dokter Spesialis Bedah RSUD Bakti Pajajaran Kabupaten Bogor, dr. Aulia Rahman Anshary, Sp.B, menjelaskan bahwa usus buntu atau apendisitis pada dasarnya terjadi akibat proses peradangan dan infeksi yang dapat dipicu oleh berbagai faktor.

“Sebenarnya bukan karena habis makan cabai atau jambu kemudian langsung usus buntu. Penyebab utamanya bukan itu,” kata dr. Aulia.

Menurutnya, biji-bijian memang dapat menjadi salah satu faktor risiko apabila menyebabkan sumbatan pada saluran usus buntu. Meski demikian, kondisi tersebut tidak terjadi secara otomatis pada setiap orang yang mengonsumsinya.

“Biji-bijian bisa saja menjadi faktor risiko karena menyebabkan sumbatan. Tetapi bukan berarti setiap makan jambu atau cabai pasti akan terkena usus buntu,” ujarnya.

dr. Aulia menegaskan masyarakat tetap dapat mengonsumsi buah maupun makanan pedas secara wajar. Ia mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan pola makan sehat serta mengenali gejala yang muncul pada tubuh dibandingkan terlalu khawatir terhadap mitos yang belum terbukti secara medis.

Lebih lanjut, ia menjelaskan gejala usus buntu umumnya ditandai dengan nyeri perut yang awalnya terasa di bagian tengah perut, kemudian berpindah ke area kanan bawah. Jika keluhan semakin berat dan tidak kunjung membaik, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

“Kalau nyerinya semakin berat dan tidak membaik, jangan menunggu terlalu lama. Segera periksakan diri agar penyebabnya bisa diketahui lebih cepat,” ucapnya.

Melalui pemahaman yang tepat mengenai penyebab dan gejala usus buntu, masyarakat diharapkan tidak mudah mempercayai informasi kesehatan yang keliru. Edukasi yang benar dinilai penting untuk meningkatkan kewaspadaan serta mendorong deteksi dini berbagai penyakit.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....