Ada Risiko Penyakit Serius di Balik Nikmatnya Sayur Goreng

  • 28 Mei 2026 17:20 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Kebiasaan mengonsumsi sayur goreng seperti kol goreng, terong goreng, buncis goreng, hingga jukut goreng memang terasa lezat dan renyah. Namun jika dikonsumsi terlalu sering, makanan ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius akibat kandungan minyak, lemak trans, dan senyawa berbahaya yang muncul saat proses penggorengan suhu tinggi.

Salah satu risiko yang paling sering dikaitkan dengan konsumsi makanan gorengan adalah penyakit jantung dan kolesterol tinggi. Sayuran yang digoreng cenderung menyerap banyak minyak sehingga kandungan lemak jenuh meningkat. Penelitian yang dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition menyebut konsumsi makanan yang digoreng secara rutin berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner dan tekanan darah tinggi.

Selain itu, makanan yang digoreng berlebihan juga dapat memicu resistensi insulin dan diabetes tipe 2. Proses penggorengan menghasilkan kalori lebih tinggi dan dapat mengganggu sensitivitas insulin tubuh. Studi dalam jurnal Diabetes Care menemukan konsumsi gorengan lebih dari empat kali per minggu berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 secara signifikan.

Risiko lainnya adalah kanker akibat terbentuknya senyawa akrilamida ketika makanan dipanaskan dalam suhu tinggi. Akrilamida diketahui muncul pada makanan yang digoreng hingga terlalu kecoklatan. Akrilamida dikategorikan sebagai zat yang berpotensi memicu kanker pada manusia.

Kebiasaan mengonsumsi sayur goreng juga dapat memicu obesitas dan penumpukan lemak perut. Kandungan minyak yang tinggi membuat asupan kalori meningkat tanpa disadari. Lemak perut berlebih diketahui menjadi faktor risiko berbagai penyakit metabolik seperti stroke, diabetes, dan gangguan jantung. Penelitian dalam British Medical Journal menyebut konsumsi makanan gorengan berkaitan dengan peningkatan berat badan dan obesitas.

Tidak hanya itu, makanan yang digoreng terlalu sering juga dapat memicu peradangan atau inflamasi dalam tubuh. Minyak yang dipanaskan berulang kali menghasilkan radikal bebas yang dapat merusak sel tubuh dan meningkatkan respons inflamasi kronis. Kondisi ini berkaitan dengan berbagai penyakit degeneratif. Pola makan tinggi gorengan berkaitan dengan peningkatan marker inflamasi dalam tubuh.

Dampak lain yang jarang disadari adalah gangguan kesehatan usus. Sayur yang digoreng terlalu lama dapat kehilangan sebagian besar serat dan nutrisi penting yang sebenarnya dibutuhkan bakteri baik di usus. Kandungan lemak tinggi juga dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus sehingga memicu gangguan pencernaan dan penurunan kesehatan saluran cerna.

Ahli kesehatan menyarankan masyarakat untuk membatasi konsumsi sayur goreng dan mulai memilih metode memasak yang lebih sehat seperti merebus, mengukus, atau menumis ringan. Selain menjaga kandungan nutrisi tetap baik, cara ini juga membantu mengurangi risiko penyakit akibat konsumsi minyak berlebihan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....