Belum Ada Kasus Hantavirus di Bogor, Warga Diminta Tetap Waspada

  • 12 Mei 2026 10:18 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Kasus hantavirus yang ditemukan pada kapal ekspedisi MV Hondius memicu peningkatan kewaspadaan di berbagai daerah. Penyakit hantavirus mulai ramai diperbincangkan setelah adanya laporan kematian akibat infeksi virus tersebut.

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Virus ini berasal dari genus Orthohantavirus dan dapat menyerang sistem pernapasan maupun ginjal manusia.

Dilansir dari laman Dinas Kesehatan Kota Bogor, penularan umumnya terjadi akibat paparan urin, tinja, atau air liur tikus yang terinfeksi. Virus dapat masuk saat seseorang menghirup partikel terkontaminasi atau menyentuh benda tercemar tanpa perlindungan.

Gejala awal hantavirus biasanya menyerupai flu biasa. Penderita dapat mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, lemas, hingga nyeri perut dalam beberapa minggu setelah paparan.

Pada kondisi berat, penyakit ini bisa berkembang menjadi gangguan pernapasan akut, penumpukan cairan di paru-paru, gangguan ginjal, hingga kegagalan organ. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting dalam penanganan kasus.

Meski demikian, melalui laman resminya Dinas Kesehatan Kota Bogor memastikan hingga 11 Mei 2026 belum ditemukan kasus hantavirus di wilayah Kota Bogor. Pemerintah daerah juga terus melakukan pemantauan dan pengawasan secara berkala.

Secara nasional, data surveilans tahun 2025 mencatat terdapat 10 kasus konfirmasi hantavirus di lima provinsi. Di Jawa Barat sendiri ditemukan dua kasus, masing-masing di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Ciamis.

Sebagai langkah kewaspadaan, Dinas Kesehatan Kota Bogor memperkuat sistem pemantauan penyakit melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit.

Masyarakat diimbau menjaga kebersihan rumah dan lingkungan untuk mengurangi risiko berkembangnya tikus. Makanan juga dianjurkan disimpan dalam wadah tertutup agar tidak mengundang hewan pengerat.

Warga yang membersihkan area dengan kotoran tikus diminta menggunakan masker dan sarung tangan. Kotoran tikus juga tidak boleh dibersihkan dalam kondisi kering karena dapat memicu penyebaran partikel virus di udara.

Dinas Kesehatan Kota Bogor meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya informasi yang belum terverifikasi. Warga dianjurkan merujuk informasi kesehatan hanya dari sumber resmi pemerintah.

Apabila mengalami demam, gangguan pernapasan, atau keluhan lain setelah kontak dengan lingkungan yang banyak tikus, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....