Hantavirus Perlu Diwaspadai, Indonesia Dinilai Berisiko Tinggi
- 12 Mei 2026 07:02 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Hantavirus menjadi salah satu penyakit menular yang mulai mendapat perhatian karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius hingga kematian apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Penyakit ini berasal dari virus yang dibawa tikus dan dapat menyebar melalui paparan urin, air liur maupun kotoran tikus yang mencemari lingkungan sekitar manusia.
Dilansir dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, penularan hantavirus umumnya terjadi saat seseorang menghirup partikel debu yang telah terkontaminasi virus dari kotoran atau urin tikus di area tertutup maupun lingkungan yang kurang bersih. Risiko penularan juga meningkat pada kawasan dengan populasi tikus tinggi, terutama di permukiman padat penduduk dengan sanitasi yang belum optimal.
Gejala awal hantavirus sering kali sulit dikenali karena menyerupai penyakit infeksi lain seperti demam berdarah, tifoid hingga influenza biasa yang umum terjadi di Indonesia. Penderita biasanya mengalami demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah hingga tubuh terasa lemas dalam beberapa hari pertama setelah terpapar virus.
Dalam kondisi yang lebih berat, hantavirus dapat berkembang menjadi penyakit serius yang menyerang sistem pernapasan maupun organ ginjal sehingga membutuhkan penanganan medis intensif di rumah sakit. Tingkat kematian pada kasus tertentu bahkan cukup tinggi karena pasien dapat mengalami gagal napas ataupun gangguan fungsi ginjal dalam waktu singkat.
Hantavirus sendiri diketahui memiliki dua sindrom utama yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS yang menyerang ginjal dan pembuluh darah serta Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS yang menyerang paru-paru. Kedua jenis penyakit tersebut sama-sama berbahaya dan memerlukan deteksi dini agar pasien dapat segera memperoleh penanganan yang sesuai.
Indonesia dinilai memiliki risiko cukup tinggi terhadap penyebaran hantavirus karena keberadaan tikus masih banyak ditemukan di lingkungan rumah, pasar tradisional hingga kawasan padat penduduk. Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya temuan kasus hantavirus di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang dan Denpasar.
Pencegahan hantavirus dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan secara rutin serta mengurangi potensi berkembangnya populasi tikus di sekitar tempat tinggal masyarakat. Selain itu, masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area berdebu atau tempat yang diduga terkontaminasi kotoran tikus agar tidak menghirup partikel virus di udara.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit zoonosis yang berasal dari hewan, termasuk hantavirus yang berpotensi memicu masalah kesehatan serius. Edukasi mengenai pola hidup bersih, sanitasi lingkungan dan pengendalian tikus dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut di tengah masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....