Alasan Biologis Mengapa Berat Badan Sulit Turun dan Kembali Naik

  • 07 Mei 2026 08:55 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Menurunkan berat badan sering dianggap hanya soal kemauan dan disiplin diri. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa tubuh manusia memiliki mekanisme biologis yang membuat penurunan berat badan sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Banyak orang berhasil menurunkan berat badan melalui diet dan olahraga, tetapi sebagian besar kembali mengalami kenaikan berat badan dalam beberapa tahun berikutnya. Para ilmuwan menilai kondisi ini bukan semata-mata akibat kurangnya tekad, melainkan respons alami tubuh terhadap perubahna berat badan.

Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa saat berat badan turun, tubuh akan berusaha mempertahankan kondisi sebelumnya dengan memperlambat metabolisme. Akibatnya, tubuh membakar kalori lebih sedikit dibandingkan sebelum diet sehingga seseorang harus menjaga pola makan lebih ketat agar berat badan tetap stabil.

Perubahan hormon juga berperan besar dalam proses tersebut. Setelah menjalani diet, hormon pemicu rasa lapar meningkat, sementara hormon yang memberi sinyal kenyang justru menurun sehingga keinginan makan menjadi lebih besar.

Fenomena ini terlihat dalam berbagai penelitian mengenai penurunan berat badan ekstrem. Salah satu studi terhadap peserta program penurunan berat badan di Amerika Serikat menemukan bahwa sebagian besar peserta kembali mengalami kenaikan berat badan beberapa tahun setelah program berakhir.

Para ahli menjelaskan bahwa tubuh memiliki sistem pertahanan alami yang dikenal sebagai "set point" atau titik keseimbangan berat badan. Sistem ini membuat tubuh cenderung mempertahankan berat tertentu yang telah terbentuk sejak lama sehingga perubahan drastis sulit dipertahankan.

Selain faktor biologis, stigma sosial terhadap obesitas juga dinilai memperburuk kondisi penderita. Banyak orang dengan berat badan berlebih merasa malu untuk mencari bantuan medis karena khawatir mendapat penilaian negatif dari lingkungan maupun tenaga kesehatan.

Perkembangan ilmu kedokteran kini mulai mengubah pendekatan dalam menangani obesitas. Dokter tidak lagi hanya fokus pada pengurangan berat badan, tetapi juga memahami faktor genetik, hormon, kesehatan mental, hingga pola hidup pasien secara menyeluruh.

Berbagai metode penanganan modern seperti operasi bariatrik dan obat berbasis hormon mulai digunakan untuk membantu mengendalikan rasa lapar dan metabolisme tubuh. Meski demikian, para ahli menekankan bahwa setiap orang membutuhkan pendekatan yang berbeda sesuai kondisi tubuh masing-masing.

Para peneliti juga menilai keberhasilan menjaga berat badan ideal memerlukan dukungan jangka panjang. Pendampingan dokter, ahli gizi, dan tenaga kesehatan mental dianggap penting agar seseorang dapat menjalani pola hidup sehat secara konsisten tanpa tekanan berlebihan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....