Kebiasaan Doomscrolling dan Sulitnya Lepas dari Layar Ponsel

  • 07 Mei 2026 11:57 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Kita semua mungkin pernah ada di titik ini: awalnya cuma ingin “cek sebentar” notifikasi di ponsel, tapi tiba-tiba waktu sudah berlalu satu jam, bahkan lebih. Jari terus menggulir layar tanpa henti, berpindah dari satu konten ke konten lain, tanpa benar-benar tahu apa yang dicari. Inilah yang disebut sebagai doomscrolling kebiasaan scroll tanpa tujuan yang kini semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan iseng. Ia adalah fenomena yang muncul dari cara kita berinteraksi dengan teknologi. Kata “doom” sendiri berarti malapetaka, dan memang sering kali aktivitas ini membuat kita terjebak dalam arus informasi yang berat, negatif, atau melelahkan. Anehnya, meski membuat cemas atau lelah, kita tetap saja lanjut scroll, seolah ada dorongan yang sulit dihentikan.

Salah satu penyebabnya adalah rasa ingin tahu alami manusia. Kita selalu ingin tahu apa yang sedang terjadi, apa yang sedang ramai dibicarakan. Ditambah lagi, algoritma media sosial dirancang untuk terus menyajikan konten yang sesuai dengan minat kita, membuat kita betah berlama-lama. Tanpa disadari, kita seperti masuk ke dalam lingkaran tanpa ujung.

Di sisi lain, banyak orang melakukan doomscrolling sebagai bentuk pelarian. Saat bosan, lelah, atau bahkan cemas, membuka ponsel terasa seperti solusi cepat. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Terlalu banyak mengonsumsi informasi, apalagi yang bernada negatif, bisa memperburuk suasana hati, meningkatkan stres, dan membuat pikiran semakin penuh.

Dampaknya memang tidak selalu langsung terasa. Namun, jika dibiarkan, doomscrolling bisa mengganggu kualitas tidur, menurunkan produktivitas, hingga memicu kelelahan mental. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk beristirahat atau melakukan hal yang lebih bermakna, justru habis di layar.

Lalu, apakah kita harus benar-benar menjauh dari ponsel? Tidak juga. Kuncinya ada pada kesadaran. Menyadari kapan kita mulai scroll tanpa tujuan, dan berani berhenti sebelum terlambat. Membatasi waktu penggunaan, memilih konten yang lebih positif, atau sekadar memberi jeda dari layar bisa jadi langkah sederhana yang berdampak besar.

Pada akhirnya, doomscrolling mengingatkan kita bahwa di tengah derasnya arus informasi, kita tetap punya kendali. Bukan soal seberapa sering kita membuka layar, tapi seberapa sadar kita saat melakukannya. Karena terkadang, berhenti scroll justru adalah cara terbaik untuk kembali terhubung dengan diri sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....