Brainrot Mengintai Generasi Z, Kebiasaan Scroll Disebut Pemicu

  • 28 Apr 2026 12:55 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Di tengah kehidupan modern yang makin terkoneksi dan bergerak serba cepat, generasi muda kembali menjadi sorotan. Kali ini bukan soal tren gaya hidup, melainkan kondisi kesehatan kognitif yang mulai memunculkan kekhawatiran. Sebuah studi dari Yale pada 2025 menemukan adanya peningkatan signifikan laporan gangguan kognitif pada kelompok usia muda, khususnya generasi Z atau Gen Z.

Gangguan yang dimaksud bukanlah demensia atau penyakit otak berat lainnya. Namun, keluhan yang muncul tetap patut diperhatikan, seperti sulit berkonsentrasi, mudah lupa, hingga kesulitan mengambil keputusan dalam aktivitas sehari-hari. Keluhan tersebut bersifat subjektif, tetapi jumlah laporan yang meningkat menunjukkan adanya perubahan nyata dalam pengalaman hidup generasi muda saat ini.

Fenomena ini kemudian kerap dikaitkan dengan istilah populer “brainrot”. Istilah nonmedis tersebut menggambarkan kondisi ketika otak terasa lelah akibat terlalu banyak menerima informasi digital secara terus-menerus. Paparan konten singkat, arus berita tanpa henti, dan kebiasaan berpindah fokus dalam hitungan detik diduga menjadi pemicu utama kelelahan mental tersebut.

Salah satu peneliti dari Yale School of Medicine, Adam de Havenon, menjelaskan bahwa temuan ini perlu dipahami secara cermat. Menurut dia, masalah memori dan cara berpikir kini muncul sebagai salah satu persoalan kesehatan utama yang banyak dilaporkan orang dewasa di Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa kondisi ini bukan diagnosis demensia maupun gangguan kognitif klinis, melainkan laporan dari individu yang merasa mengalami kesulitan serius dalam berkonsentrasi, mengingat, atau membuat keputusan.

Data penelitian menunjukkan kelompok usia 18 hingga 34 tahun mengalami peningkatan hampir dua kali lipat dalam laporan kesulitan kognitif selama satu dekade terakhir. Jika pada 2013 angkanya berada di 5,1 persen, maka pada 2023 meningkat menjadi 9,7 persen. Lonjakan tersebut menjadi yang paling mencolok dibanding kelompok usia lainnya, sehingga memunculkan pertanyaan besar tentang pengaruh pola hidup digital terhadap kemampuan berpikir jangka panjang.

Neuroscientist Jared Cooney Horvath turut menyoroti fenomena ini dari sudut pandang lebih luas. Ia menyebut bahwa dalam dua dekade terakhir, perkembangan kognitif anak-anak di banyak negara maju cenderung melambat, bahkan pada sejumlah aspek mengalami kemunduran. Menurutnya, adopsi teknologi yang terlalu cepat tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang bisa menjadi salah satu faktor yang perlu dievaluasi.

Di kehidupan sehari-hari, kebiasaan scroll tanpa henti, notifikasi yang datang terus-menerus, serta tekanan sosial untuk selalu aktif di dunia maya dinilai mengganggu kemampuan otak untuk beristirahat. Otak yang terus dibanjiri rangsangan cenderung sulit masuk ke mode fokus mendalam. Akibatnya, konsentrasi mudah buyar dan produktivitas perlahan menurun.

Meski demikian, fenomena ini juga membuka ruang diskusi baru mengenai pentingnya keseimbangan hidup di era digital. Banyak pakar menyarankan penerapan digital detox, yakni membatasi konsumsi konten berlebihan dan memberi jeda dari layar gawai. Selain itu, kebiasaan membaca buku, berolahraga, berinteraksi langsung, serta melakukan aktivitas offline dinilai efektif membantu mengembalikan fokus dan ketahanan mental.

Bagi Gen Z yang lahir dan tumbuh bersama teknologi, tantangan terbesar bukan menjauhi dunia digital, melainkan mengendalikannya. Teknologi tetap membawa manfaat besar, namun tanpa batas yang sehat, kemudahan itu justru dapat menggerus kemampuan berpikir. Saat dunia semakin cepat, menjaga kejernihan pikiran mungkin menjadi keterampilan paling berharga bagi generasi masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....