Perempuan Rentan Terjebak Rasa Bersalah saat Istirahat

  • 09 Apr 2026 07:38 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Perempuan yang dikenal mampu menjalankan banyak peran sekaligus atau high-functioning women ternyata memiliki kerentanan tersendiri terhadap tekanan mental. Salah satunya adalah munculnya rasa bersalah ketika mengambil waktu istirahat, meskipun kondisi tubuh dan pikiran sudah lelah.

Dilansir dari Hindustan Times, psikoterapis mengungkapkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan pola pikir yang disebut “high-functioning script”, yakni dorongan untuk terus produktif dan tampil mampu dalam berbagai situasi. Pola ini sering kali membuat seseorang sulit berhenti, bahkan ketika mereka membutuhkan jeda untuk memulihkan diri.

Perempuan dengan pola ini umumnya tetap terlihat baik-baik saja dari luar, mampu menyelesaikan pekerjaan, memenuhi tanggung jawab, serta menjaga peran sosial. Namun di balik itu, mereka kerap mengalami kelelahan emosional dan tekanan mental yang tidak terlihat.

Rasa bersalah saat beristirahat muncul karena adanya keyakinan bahwa nilai diri ditentukan oleh produktivitas. Akibatnya, ketika tidak melakukan sesuatu yang dianggap “bermanfaat”, muncul perasaan tidak nyaman, gelisah, bahkan merasa gagal.

Selain itu, faktor lingkungan dan pola asuh juga turut membentuk kondisi ini. Banyak perempuan sejak dini terbiasa menjadi sosok yang diandalkan, bertanggung jawab, dan selalu memenuhi ekspektasi orang lain. Tanpa disadari, hal ini membentuk kebiasaan untuk terus bekerja tanpa memberi ruang bagi diri sendiri.

Tekanan sosial juga berperan besar, terutama adanya standar tidak tertulis bahwa perempuan harus mampu mengelola karier, keluarga, dan kehidupan sosial secara bersamaan. Ekspektasi ini membuat mereka cenderung memaksakan diri untuk tetap produktif meskipun sudah berada di batas kelelahan.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi burnout tersembunyi atau kelelahan kronis yang tidak disadari. Dalam banyak kasus, seseorang tetap berfungsi secara normal, tetapi secara emosional merasa kosong, lelah, dan kehilangan motivasi.

Dampaknya tidak hanya pada kesehatan mental, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan fisik, kualitas tidur, hingga hubungan sosial. Ketika kebutuhan untuk beristirahat terus diabaikan, tubuh dan pikiran akan mengalami penurunan fungsi secara bertahap.

Para ahli menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap istirahat. Istirahat bukanlah bentuk kemalasan, melainkan kebutuhan dasar yang sama pentingnya dengan produktivitas. Memberi waktu bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak justru dapat meningkatkan kinerja dan keseimbangan hidup secara keseluruhan.

Selain itu, menetapkan batasan, mengurangi tekanan untuk selalu sempurna, serta belajar menerima bahwa tidak semua hal harus diselesaikan sekaligus menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan mental.

Dengan meningkatkan kesadaran akan pola ini, perempuan diharapkan dapat lebih memahami kebutuhan dirinya sendiri. Keseimbangan antara produktivitas dan istirahat menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan mental sekaligus mempertahankan kualitas hidup dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....