Kasus Suspek Campak di Kota Bogor Meningkat, Dinkes Siapkan Imunisasi Kejar MR
- 09 Mar 2026 22:28 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Penyakit campak atau morbili merupakan infeksi virus yang sangat mudah menular melalui percikan droplet ketika penderita batuk, bersin, maupun berbicara. Dikutip dari laman resmi Dinas Kesehatan Kota Bogor, Penyakit ini biasanya ditandai dengan demam serta munculnya ruam merah yang bermula dari belakang telinga dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh.
Gejala lain yang sering menyertai campak antara lain batuk, pilek, serta mata merah atau berair. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, gizi buruk hingga kematian, terutama pada balita dan anak yang belum mendapatkan imunisasi.
Secara nasional, pada tahun 2025 tercatat sekitar 63.769 kasus suspek campak di Indonesia. Dari jumlah tersebut, lebih dari 11 ribu kasus telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium dan tercatat pula sejumlah kasus kematian.
Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan kasus campak serta menurunnya kekebalan kelompok akibat kesenjangan cakupan imunisasi di beberapa wilayah. Indonesia masih termasuk negara dengan beban kasus campak cukup tinggi di dunia. Karena itu, pemerintah terus mendorong pelaksanaan imunisasi campak-rubela sebagai upaya mencegah terjadinya kejadian luar biasa atau KLB.
Di tingkat provinsi, data Surveilans Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) tahun 2025 mencatat sebanyak 17.388 kasus suspek campak di Jawa Barat. Tren peningkatan kasus terjadi sejak April hingga Desember 2025 dengan puncak kasus pada Desember yang mencapai 3.470 kasus.
Sementara itu di Kota Bogor, pada tahun 2025 tercatat 1.457 kasus suspek campak dengan tren peningkatan sejak Juli. Puncak kasus terjadi pada Desember 2025 dengan total 470 kasus, yang sejalan dengan pola peningkatan di tingkat Provinsi Jawa Barat.
Dalam tiga tahun terakhir, kasus campak terkonfirmasi di Kota Bogor tercatat sebanyak 380 kasus pada tahun 2023, lima kasus pada 2024, dan meningkat kembali menjadi 31 kasus pada tahun 2025. Memasuki tahun 2026 hingga minggu ketujuh, tren kasus suspek campak di Kota Bogor tercatat relatif stagnan dengan rata-rata sekitar 186 kasus per minggu. Puncak kasus sementara terjadi pada minggu keempat dengan jumlah 233 kasus.
Meski cakupan imunisasi MR di Kota Bogor telah melampaui target nasional, yaitu 97,5 persen pada 2023, 101,8 persen pada 2024, dan 98,3 persen pada 2025, peningkatan kasus pada 2025 menunjukkan masih adanya kelompok masyarakat yang belum terlindungi secara optimal. Kondisi tersebut menjadi dasar penetapan Kota Bogor sebagai salah satu dari 100 kabupaten dan kota yang akan melaksanakan Catch Up Campaign imunisasi kejar campak-rubela pada tahun 2026.
Sebagai langkah respons cepat, Dinas Kesehatan Kota Bogor telah memperkuat sistem pelaporan harian kasus campak dari puskesmas dan rumah sakit. Selain itu juga dilakukan penyelidikan epidemiologi pada setiap kasus suspek.
Dinas Kesehatan juga memastikan penanganan pasien sesuai standar, termasuk pemberian vitamin A, serta meningkatkan promosi kesehatan terkait penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Seluruh puskesmas juga diminta mendata anak yang belum mendapatkan imunisasi MR secara lengkap.
Pada Maret 2026, Kota Bogor akan melaksanakan Catch Up Campaign imunisasi kejar campak-rubela bagi anak usia 9 hingga 59 bulan dengan target minimal cakupan 95 persen. Program imunisasi tersebut akan dilaksanakan di berbagai lokasi seperti PAUD dan TK, puskesmas, posyandu, kegiatan sweeping door to door, tempat ibadah, serta titik pelayanan lainnya yang disesuaikan dengan kondisi wilayah.
Dinas Kesehatan Kota Bogor juga mengimbau masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki balita, agar segera melengkapi imunisasi anak di fasilitas kesehatan terdekat. Selain itu masyarakat diminta memanfaatkan program imunisasi kejar yang akan dilaksanakan sepanjang Maret 2026.
Masyarakat juga diminta mewaspadai gejala campak seperti demam yang disertai ruam merah, batuk, pilek, dan mata merah. Apabila gejala tersebut muncul, orang tua disarankan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan dan melakukan isolasi di rumah untuk mencegah penularan. Dalam kondisi darurat kesehatan, masyarakat dapat menghubungi call center PSC GESIT melalui nomor 119 untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....