Anosmia Bisa Jadi Tanda Penyakit Serius, Ini Faktanya
- 25 Feb 2026 11:19 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Anosmia merupakan kondisi hilangnya kemampuan indra penciuman, baik sebagian maupun total. Gangguan ini bisa terjadi sementara atau permanen, tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Kondisi tersebut kerap dianggap sepele, padahal dapat menjadi tanda masalah kesehatan tertentu.
Anosmia dapat dialami oleh siapa saja dan sering kali berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan atas, gangguan hidung, hingga penyakit saraf. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga dikaitkan dengan infeksi virus, termasuk COVID-19. Hilangnya penciuman dapat memengaruhi kualitas hidup karena berkaitan erat dengan kemampuan mengecap rasa makanan.
Mengutip Halodoc, anosmia adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mencium bau. “Anosmia adalah kondisi hilangnya kemampuan indra penciuman, baik sebagian (hiposmia) maupun total,” tulis Halodoc dalam laman kesehatannya. Kondisi ini bisa terjadi secara tiba-tiba atau bertahap.
Menurut penjelasan Halodoc, penyebab anosmia paling umum adalah pilek, flu, sinusitis, dan alergi yang menyebabkan hidung tersumbat. Selain itu, cedera kepala, polip hidung, paparan bahan kimia beracun, hingga gangguan pada sistem saraf juga dapat memicu kondisi tersebut. Pada kasus tertentu, anosmia dapat menjadi gejala penyakit neurologis seperti Parkinson atau Alzheimer.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari ENT UK, gangguan penciuman dapat terjadi akibat infeksi virus yang merusak saraf penciuman. Lembaga tersebut menjelaskan bahwa sebagian pasien dapat pulih dalam beberapa minggu, tetapi ada juga yang mengalami gangguan jangka panjang. Rehabilitasi penciuman atau smell training disebut dapat membantu proses pemulihan.
Gejala utama anosmia adalah ketidakmampuan mencium bau yang biasanya terdeteksi dengan mudah, seperti aroma makanan atau parfum. Kondisi ini sering disertai hidung tersumbat, berair, atau berkurangnya kemampuan mengecap rasa. Pada beberapa kasus, penderita baru menyadari gangguan tersebut setelah tidak dapat mencium bau menyengat.
Diagnosis anosmia dilakukan melalui wawancara medis dan pemeriksaan fisik pada hidung. Dokter dapat melakukan tes penciuman untuk mengukur sensitivitas pasien terhadap berbagai aroma. Jika dicurigai ada gangguan serius, pemeriksaan lanjutan seperti CT scan atau MRI dapat direkomendasikan.
Penanganan anosmia bergantung pada penyebabnya. Jika dipicu oleh infeksi atau alergi, pengobatan kondisi dasar biasanya dapat memulihkan fungsi penciuman. Namun, bila disebabkan kerusakan saraf, pemulihan bisa memerlukan waktu lebih lama dan tidak selalu kembali sepenuhnya.
Masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala hilangnya penciuman, terutama jika terjadi tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas. Konsultasi dengan tenaga medis diperlukan guna mengetahui penyebab pasti dan mendapatkan penanganan yang tepat. Deteksi dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....