Dokter Palsu Berbasis AI Marak di Media Sosial, Warganet Diminta Lebih Waspada

  • 28 Jul 2026 12:16 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa banyak manfaat di berbagai bidang, termasuk kesehatan. Namun, di sisi lain, teknologi ini juga dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi kesehatan yang menyesatkan. Belakangan, kemunculan "dokter" palsu berbasis AI di media sosial seperti Facebook, Instagram, hingga TikTok menjadi perhatian karena dinilai berpotensi membahayakan masyarakat, khususnya kalangan lanjut usia (lansia). Berdasarkan investigasi The New York Times yang dipublikasikan pada 27 Juli 2026, ditemukan ratusan iklan dengan pola serupa yang memanfaatkan avatar AI untuk mempromosikan suplemen kesehatan tanpa dasar ilmiah yang jelas.

Video-video tersebut umumnya menampilkan avatar AI yang dibuat menyerupai dokter, pakar kesehatan, maupun praktisi pengobatan tradisional. Mereka tampil mengenakan jas laboratorium lengkap dengan latar ruang praktik dan sertifikat yang tampak meyakinkan. Bahkan, dalam salah satu video yang ditemukan, terdapat ijazah palsu bertuliskan "University of Degree". Tujuannya adalah membangun kepercayaan publik agar lebih mudah menerima klaim kesehatan yang disampaikan sekaligus terdorong membeli produk suplemen tertentu.

Sejumlah iklan juga menggunakan pendekatan yang lebih personal. Avatar AI dibuat menyerupai orang biasa yang menceritakan pengalaman mengonsumsi suplemen tertentu di tempat-tempat yang tampak alami, seperti halaman parkir, kamar tidur, atau supermarket. Beberapa video bahkan mengklaim bahwa produk herbal tertentu mampu mengatasi penyakit kronis, termasuk gangguan ginjal, dengan hasil yang lebih baik dibandingkan obat medis. Klaim semacam ini dinilai tidak memiliki bukti ilmiah yang memadai dan berpotensi menyesatkan masyarakat.

Salah satu kasus yang disoroti adalah pengalaman Pamela Wundrow, perempuan berusia 71 tahun di Amerika Serikat. Menurut laporan The New York Times pada 27 Juli 2026, ia membeli suplemen moringa dari perusahaan Rosabella setelah melihat iklan di Facebook. Beberapa bulan kemudian, regulator federal Amerika Serikat mengumumkan penarikan produk tersebut karena diduga terkontaminasi bakteri Salmonella. Meski tidak mengalami infeksi, Wundrow mengaku kondisi kesehatannya justru memburuk setelah mengonsumsi suplemen tersebut. Ia menilai iklan-iklan seperti itu sengaja menyasar orang-orang yang memiliki masalah kesehatan.

Investigasi tersebut juga mengungkap adanya perusahaan pemasaran asal China yang mampu memproduksi hingga 1.200 video AI setiap hari dengan biaya sekitar US$10 per video. Konten-konten tersebut dirancang agar tampak berasal dari Amerika Serikat, mulai dari penggunaan latar lingkungan, bahasa, hingga simbol-simbol tertentu. Praktik ini menunjukkan bahwa teknologi AI kini memungkinkan produksi konten dalam jumlah besar dengan biaya murah, sehingga penyebaran informasi palsu dapat berlangsung lebih cepat dan luas dibandingkan sebelumnya.

Di sisi lain, platform media sosial mengaku telah mengambil langkah untuk mengurangi penyebaran konten menyesatkan. TikTok menyatakan telah menindak akun yang menyebarkan klaim kesehatan palsu, sedangkan Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, menyebut telah memberikan label pada konten yang dibuat menggunakan AI. Meski demikian, The New York Times menemukan sejumlah video kesehatan berbasis AI masih sempat beredar di platform tersebut sebelum akhirnya dihapus. Hal ini menunjukkan bahwa pengawasan terhadap konten AI masih menjadi tantangan besar di era digital.

Masyarakat pun diimbau untuk lebih kritis dalam menerima informasi kesehatan di media sosial. Informasi medis sebaiknya selalu diverifikasi melalui tenaga kesehatan resmi, rumah sakit, atau lembaga kesehatan yang kredibel. Jangan mudah percaya pada video yang menampilkan sosok dokter atau ahli tanpa identitas yang jelas, terlebih jika disertai ajakan membeli produk tertentu. Literasi digital menjadi kunci agar masyarakat tidak menjadi korban misinformasi kesehatan yang semakin canggih dengan bantuan teknologi AI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....