Waspada Social Engineering, Ancaman Siber yang Menyerang Psikologi Pengguna
- 26 Mei 2026 11:35 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Kemanan Siber
- Modus Phising
- BSSN
RRI.CO.ID, Bogor - Perkembangan teknologi digital membawa banyak kemudahan, namun juga menghadirkan ancaman baru di dunia siber. Salah satu yang paling sering terjadi adalah social engineering atau rekayasa sosial, yaitu teknik manipulasi untuk mencuri data dan informasi pribadi pengguna.
Berbeda dengan peretasan sistem, social engineering lebih fokus menyerang psikologis manusia. Pelaku memanfaatkan rasa panik, percaya, penasaran, hingga kelengahan korban agar mau memberikan data penting secara sukarela.
Salah satu bentuk social engineering yang paling umum adalah phishing. Modus ini biasanya dilakukan melalui email, SMS, WhatsApp, atau media sosial dengan tampilan menyerupai pihak resmi seperti bank, marketplace, maupun instansi pemerintah.
Dilansir dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), phishing masih menjadi salah satu ancaman siber terbesar di Indonesia. Modus yang sering ditemukan antara lain file APK palsu, undangan digital, hingga surat tilang elektronik palsu yang dikirim melalui pesan singkat.
Selain phishing, pelaku juga sering menggunakan teknik penyamaran dengan mengaku sebagai customer service, kurir, atau teman korban. Tujuannya untuk mendapatkan kode OTP, password, atau akses akun tertentu tanpa disadari korban.
Dilansir dari laporan Kaspersky, Indonesia beberapa kali masuk dalam daftar negara dengan tingkat ancaman phishing tinggi di Asia Tenggara. Banyak korban tertipu karena tampilan situs dan pesan palsu dibuat sangat mirip dengan layanan asli.
Kasus social engineering di Indonesia juga kerap menyebabkan kerugian finansial. Tidak sedikit korban kehilangan tabungan atau akun digital karena memberikan data pribadi kepada pelaku yang mengatasnamakan pihak tertentu.
Untuk mencegah hal tersebut, masyarakat perlu lebih waspada terhadap pesan mencurigakan yang bersifat mendesak atau menawarkan hadiah berlebihan. Jangan pernah membagikan kode OTP, PIN, maupun password kepada siapa pun.
Selain itu, penggunaan autentikasi dua faktor, password yang kuat, dan kebiasaan memeriksa kembali tautan sebelum diklik dapat membantu mengurangi risiko serangan. Dengan meningkatkan literasi keamanan siber, masyarakat dapat lebih aman dalam menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....