Gelombang Panas Ekstrem Landa Amerika di Awal Musim Semi
- 22 Mar 2026 15:41 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Gelombang panas ekstrem menyapu wilayah barat Amerika Serikat sebelum bergerak ke arah tengah negara tersebut pada Sabtu akhir pekan ini, 21 Maret 2026. Fenomena ini membawa suhu yang tidak biasa hangat ke daerah yang sebelumnya masih berada di titik beku hanya dalam hitungan hari.
Perubahan suhu yang drastis ini menciptakan kejutan besar di berbagai wilayah. Puluhan kota dari California hingga Colorado mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan Maret.
Beberapa kota mengalami lonjakan suhu yang cukup signifikan dalam waktu singkat. Kansas City di Missouri dan North Platte di Nebraska mencatat suhu hingga 33,3 derajat Celsius, melampaui rekor sebelumnya.
Di Topeka, ibu kota Kansas, suhu bahkan mencapai 35 derajat Celsius pada hari Sabtu. Angka ini menjadi rekor baru yang menandai betapa ekstremnya kondisi cuaca yang terjadi.
Di negara bagian Wyoming, suhu juga mencatat sejarah baru. Ibu kota Cheyenne mengalami suhu tertinggi sepanjang masa untuk bulan Maret, mencapai 28,3 derajat Celsius.
Lonjakan suhu paling mencolok terjadi di Chanute, Kansas, yang mengalami perubahan ekstrem dalam waktu singkat. Dari suhu minus 10,5 derajat Celsius, wilayah ini melonjak ke 32,8 derajat Celsius hanya dalam empat hari.
Di Phoenix, Arizona, suhu minimum harian pun terasa tidak biasa. Angka 21,1 derajat Celsius tercatat sebagai suhu terendah, yang menjadi rekor paling awal dalam satu tahun.
Sejumlah kota lain juga mencatat suhu tertinggi harian sepanjang masa. Denver, Grand Island di Nebraska, dan Midland di Texas mengalami suhu yang mendekati atau bahkan menyentuh 37 derajat Celsius.
Puncak gelombang panas terjadi sehari sebelumnya di wilayah perbatasan California dan Arizona. Suhu mencapai 44,4 derajat Celsius, menjadikannya rekor nasional untuk bulan Maret di Amerika Serikat.
Kondisi ini mendorong otoritas cuaca mengeluarkan peringatan panas ekstrem di wilayah gurun. Selain itu, peringatan risiko kebakaran tinggi juga diberlakukan di beberapa wilayah dataran tengah seperti Nebraska, Kansas, dan Oklahoma.
Para ilmuwan menilai fenomena ini sebagai sinyal kuat dari perubahan iklim global. Gelombang panas yang semakin sering dan intens dianggap berkaitan erat dengan aktivitas manusia, terutama penggunaan bahan bakar fosil.
Di sisi lain, lonjakan suhu ini mulai berdampak pada lingkungan. Satwa liar terganggu, sementara tanaman dan pepohonan tumbuh lebih cepat dari biasanya akibat kombinasi suhu hangat dan curah hujan tinggi sebelumnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....