DLH Kabupaten Bogor Ungkap Hasil Uji Lab Pencemaran Situ Citongtut

  • 24 Feb 2026 13:25 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor mengumumkan hasil uji laboratorium terkait dugaan pencemaran Situ Citongtut, Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor. Hasilnya menunjukkan adanya parameter kualitas air yang melebihi baku mutu lingkungan dan didominasi oleh senyawa organik.

Sekretaris DLH Kabupaten Bogor, Dede Armansyah mengatakan, pihaknya telah menggelar rapat pada Rabu, 18 Februari 2026 dan akhirnya meuncurkan hasil kajiannya kepada publik. Dalam rapat itupun Dinas Lingkungan Hidup mengundang 30 lebih perusahaan yang saluran pembuangannya mengarah ke setu atau danau Citongtut.

"Berdasarkan hasil uji laboratorium, ditemukan sejumlah parameter yang melampaui baku mutu lingkungan, di antaranya nitrit, sulfida, BOD (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), serta klorin. Parameter yang melebihi baku mutu itu didominasi senyawa organik. Logam berat seluruhnya masih di bawah baku mutu. Jadi ini murni senyawa organik,” jelasnya.

Menurut Dede, senyawa organik tersebut dapat berasal dari aktivitas industri maupun limbah domestik rumah tangga. Selain temuan kualitas air, Dede juga mengungkap, fakta bahwa dari sekitar 30 perusahaan yang limbahnya mengalir ke Situ Citongtut, ditemukan ada 50 persen belum memiliki izin pembuangan limbah.

Sebagai tindak lanjut, DLH Kabupaten Bogor merencanakan langkah penertiban pada Februari hingga Maret 2026 ini. Perusahaan yang telah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) namun belum mengantongi izin didorong segera mengurus perizinan.

“Yang tidak punya IPAL akan kami tutup saluran pembuangannya. Bisa kami cor atau semen ujung salurannya sampai mereka membangun IPAL,” ujarnya.

Untuk pengawasan ke depan, DLH bersama perusahaan, pemerintah desa, kecamatan, dan masyarakat sepakat membentuk forum pengawasan pembuangan limbah. Dengan membentuk forum bersama serta memasang CCTV di setiap outlet pembuangan agar dapat terpantau secara realtime.

Kondisi geografis kawasan industri di sekitar Situ Citongtut cukup unik. Terdapat saluran irigasi yang melintasi area pabrik sehingga tidak bisa diakses langsung oleh masyarakat maupun pemerintah.

“Saluran irigasi itu masuk ke dalam kawasan pabrik. Masyarakat dan pemerintah tidak bisa memantau langsung. Tiba-tiba saluran itu keluar di Situ Citongtut. Hanya di satu segmen, yakni di jembatan, masyarakat bisa melihat kondisi air,” jelasnya.

Dengan adanya kesepakatan pemasangan CCTV, ia berharap agar pengawasan di aliran situ bisa dilakukan secara transparan. Dede juga mengaku, dirinya tidak mengetahui pasti sudah berapa lama perusahaan yang telah membuang limbah di aliran Situ Citongtut.

Rekomendasi Berita