Generasi Santri: Menyatukan Dakwah, Teknologi, Patriotisme Bela Negara

  • 15 Nov 2025 14:10 WIB
  •  Bogor

KBRN, Bogor : Di tengah arus modernisasi dan derasnya penetrasi teknologi, dunia pesantren kini berada pada sebuah persimpangan besar: mempertahankan kekayaan tradisi atau beradaptasi dengan tuntutan zaman. Kenyataannya, keduanya tak harus saling meniadakan.

Santri justru dinilai mampu menjadi jembatan antara nilai-nilai klasik pesantren dengan kemajuan teknologi, sepanjang pembinaan diarahkan dengan tepat. Hal inilah yang menjadi perhatian berbagai tokoh agama, akademisi, dan pemangku kebijakan di Kabupaten Bogor.

Ketua MUI Kecamatan Cigombong, KH. Bambang, menekankan bahwa meski kehidupan santri identik dengan kesederhanaan, banyak pondok pesantren hingga kini masih bergulat dengan persoalan mendasar seperti sanitasi, kesehatan, dan fasilitas yang tidak memadai—mulai dari kamar yang padat hingga MCK yang terbatas. 

Ia mengakui bahwa kondisi ini sudah berlangsung sejak lama, dan pemerintah belum sepenuhnya hadir memenuhi kebutuhan dasar tersebut, sehingga santri tetap hidup dalam lingkungan yang serba terbatas. 

Meski demikian, santri memiliki keunggulan dalam adat, tata krama, serta penghormatan kepada guru dan orang tua yang menjadi ciri khas pesantren dan harus tetap dijaga.

Namun, KH. Bambang mengingatkan bahwa era modern menuntut santri untuk tidak hanya bertumpu pada tradisi; mereka perlu mulai membuka diri terhadap teknologi dan memanfaatkannya untuk syiar Islam, tanpa meninggalkan nilai keagamaan serta karakter pesantren yang menjadi identitas mereka.

"Kehidupan kesederhanaan Santri saat ini menjadi salah satu nilai karakter untuk tetap hidup rendah hati namun tetap percaya diri dengan berbekal ilmu yang sudah mereka peroleh selama berada di pondok pesantren," ungkapnya.

Pergeseran pola dakwah dan penyebaran informasi Islam tidak bisa lagi dipisahkan dari dunia teknologi. Teddy Khumaidi akademisi Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Bogor, menegaskan bahwa penguasaan teknologi bagi santri bukan hanya kebutuhan tambahan, tetapi syarat mutlak.

Dunia digital dipenuhi konten yang memengaruhi persepsi masyarakat tentang Islam dan santri. Bila santri tidak melek teknologi, stigma negatif akan terus berkembang.Wajah Islam di media sosial sebagian besar justru berangkat dari dunia pesantren.

Menurutnya, algoritma media digital harus dipahami para santri, sehingga pesan-pesan keislaman dapat disebarkan secara tepat sasaran.

"Narasi positif mengenai ulama, pesantren, dan nilai-nilai Islam harus disusun secara profesional agar mampu bersaing dengan derasnya arus informasi yang menyesatkan" ujarnya.

 Dirinya menambahkan bahwa karakter santri sejak mondok selalu pantang menyerah, taat, dan memiliki kecerdasan spiritual merupakan modal besar untuk beradaptasi di dunia digital.

"Saat ini Santri mampu dan bisa berperan lebih dalam menciptakan kebaikan dengan bekal ilmu di pondok pesantren yang dimanfaatkan teknologi mutakhir. Terbukti santri bisa menjadi anggota dewan pejabat negara wartawan atau bahkan youtuber dan gamers," katanya lagi.

Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Edwin Sumarga, menegaskan bahwa keberadaan Perda Nomor 8 Tahun 2023 tentang Fasilitasi Penyelenggaraan Pesantren menjadi dasar kuat bagi pemerintah daerah untuk memberikan dukungan konkrit kepada pesantren, termasuk penyediaan fasilitas teknologi informasi seperti komputer, akses internet, dan pelatihan digital bagi para santri. 

"Dengan regulasi tersebut, Pemkab Bogor memiliki kewenangan sekaligus tanggung jawab untuk memastikan pesantren tidak tertinggal dan mampu meningkatkan kualitas pembinaan sesuai perkembangan zaman," ucapnya.

Ia menekankan bahwa peningkatan fasilitas, terutama teknologi tepat guna, penting agar santri dapat menghasilkan informasi yang berimbang, akurat, dan berkualitas mengenai dunia pesantren.

Menurutnya, pesantren memegang peran strategis dalam pembentukan karakter bangsa, sehingga penguatan sarana bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga bentuk investasi jangka panjang bagi masa depan generasi muda Indonesia.

Sementara Ketua Rois Syuriah PCNU Kabupaten Bogor sekaligus pimpinan Ponpes Yasina Cigombong, KH. Ramdoni menegaskan bahwa santri memiliki peran historis dalam perjalanan bangsa, di mana Resolusi Jihad 1945 menjadi bukti bahwa mereka rela mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

 "Jika dahulu ancaman datang dari penjajah, kini tantangan muncul dari ruang digital berupa hoaks dan degradasi moral, sehingga santri dituntut menguasai teknologi untuk menjaga marwah Islam dan keutuhan bangsa," ujarnya.

Menurut KH. Ramdoni, dunia online bukan hanya media komunikasi, melainkan medan dakwah baru yang menuntut kehadiran santri dengan konten positif untuk memperkuat syiar Islam sekaligus meneguhkan nilai-nilai kebangsaan.

Peran santri di Indonesia terus berkembang terutama setelah hadirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren yang memberikan pengakuan serta dukungan negara terhadap ekosistem pesantren. Dengan landasan hukum yang kuat, sejarah panjang perjuangan, dan tradisi yang kokoh, posisi pesantren semakin teguh sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Santri memiliki peluang besar menjadi aktor penting di era digital dengan tidak memilih antara modernitas atau tradisi, melainkan mengintegrasikan keduanya. Melalui karakter tawadhu’, sikap adaptif, dan keteguhan pada nilai-nilai Islam, santri mampu menjawab tantangan zaman.

Santri dapat menjadi penjaga moral bangsa sekaligus motor penggerak transformasi digital yang beretika. Pesantren tetap menjadi pusat pembinaan akhlak, sementara teknologi dimanfaatkan untuk memperluas manfaat pendidikan dan dakwah ke seluruh dunia

Rekomendasi Berita