Raspala Bogor, Anak Muda, Alam, dan Aksi Sosial
- 18 Agt 2026 08:08 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Kecintaan terhadap alam ternyata bisa menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk belajar tentang keberanian, tanggung jawab, sekaligus kepedulian sosial
- Komunitas pecinta alam Raspala Bogor hadir membagikan cerita tentang pengalaman menjelajah gunung, persiapan menghadapi perjalanan di alam terbuka, hingga berbagai kegiatan sosial yang mereka lakukan
- Cerita Raspala Bogor dalam talkshow tersebut memperlihatkan bahwa petualangan anak muda di alam bukan sekadar mengejar foto di puncak atau menaklukkan sebuah jalur pendakian
RRI.CO.ID, Bogor- Kecintaan terhadap alam ternyata bisa menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk belajar tentang keberanian, tanggung jawab, sekaligus kepedulian sosial. Hal itu tergambar dalam talkshow “Obrolan Komunitas” Pro 2 FM RRI Bogor bertema “Anak Muda dan Petualangan di Alam” pada Minggu, 16 Agustus 2026. Komunitas pecinta alam Raspala Bogor hadir membagikan cerita tentang pengalaman menjelajah gunung, persiapan menghadapi perjalanan di alam terbuka, hingga berbagai kegiatan sosial yang mereka lakukan. Komunitas ini kini beranggotakan lebih dari 60 orang dan menjadi ruang bagi anak muda untuk berkegiatan sekaligus belajar dari alam.
Salah satu cerita menarik datang dari perjalanan terbentuknya Raspala Bogor yang diinisiasi oleh Dani, yang kini masih berusia 10 tahun. Usianya yang terbilang sangat muda justru menjadi gambaran bahwa ketertarikan terhadap alam tidak selalu harus menunggu dewasa. Dari komunitas ini, para anggota dapat bertemu dengan orang-orang yang memiliki kegemaran serupa, berbagi pengalaman, serta saling belajar mengenai kegiatan di alam bebas. “Kami ingin kegiatan di alam bukan hanya soal naik gunung, tetapi juga menjadi tempat untuk belajar, bertemu teman, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat,” ungkap Silmi Nurul Insani dalam perbincangan tersebut.
Berbicara soal naik gunung, para anggota Raspala Bogor menekankan bahwa petualangan tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Perjalanan menuju puncak justru membutuhkan perencanaan dan persiapan serius, mulai dari menentukan jalur, memperhitungkan kondisi cuaca, menyiapkan perlengkapan, menjaga kondisi fisik, membawa kebutuhan logistik, hingga memahami kemampuan setiap anggota kelompok. Menurut Bagin, kesiapan menjadi salah satu hal penting agar perjalanan di alam tetap menyenangkan sekaligus aman. “Naik gunung itu bukan cuma soal sampai puncak. Kita harus merencanakan perjalanan dan mempersiapkan diri dengan serius,” kata Bagin.
Pengalaman berada di alam juga mengajarkan para anggota Raspala untuk tidak hanya mengandalkan keberanian. Pengetahuan dasar mengenai survival menjadi bekal penting ketika seseorang beraktivitas di gunung maupun kawasan alam terbuka. Mereka membahas pentingnya mengenali medan, memahami kebutuhan dasar selama perjalanan, menjaga komunikasi dengan anggota kelompok, serta mengetahui batas kemampuan diri. Annisa Rahmawati menilai bahwa persiapan menjadi bagian dari keseruan perjalanan karena setiap anggota dapat belajar menghadapi berbagai kemungkinan yang muncul selama berada di alam. “Justru dari persiapan itu kita belajar untuk lebih bertanggung jawab, karena di alam kita tidak bisa hanya mengandalkan nekat,” ujar Annisa.
Keseruan Raspala Bogor ternyata tidak berhenti ketika mereka kembali dari gunung. Semangat mencintai alam juga diwujudkan melalui aksi nyata di lingkungan sekitar. Salah satunya adalah kegiatan memungut sampah di kawasan Sungai Ciliwung yang dilakukan berkolaborasi dengan Peduli Ciliwung. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman berbeda bagi anggota karena mereka tidak sekadar menikmati alam, tetapi ikut menjaga ruang hidup bersama. Roni Ds menuturkan bahwa kegiatan seperti itu membuat anggota komunitas melihat persoalan lingkungan secara langsung. “Kalau kita suka naik gunung dan menikmati alam, kita juga harus punya kepedulian untuk menjaganya,” tutur Roni.
Selain kegiatan lingkungan, Raspala Bogor juga berusaha hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan. Para anggotanya terlibat sebagai relawan dalam situasi bencana, sehingga pengalaman berkegiatan di alam dapat menjadi bekal untuk membantu orang lain. Bagi Silmi, kegiatan sosial memberikan makna yang lebih luas terhadap keberadaan komunitas. Sementara itu, Bagin melihat pengalaman di lapangan sebagai kesempatan untuk membangun solidaritas antaranggota. “Kami ingin keberadaan Raspala tidak hanya dirasakan oleh anggota, tetapi juga bisa memberi manfaat untuk masyarakat,” ujar Silmi, senada dengan semangat Bagin yang menekankan pentingnya saling membantu dalam setiap kegiatan.
Cerita Raspala Bogor dalam talkshow tersebut memperlihatkan bahwa petualangan anak muda di alam bukan sekadar mengejar foto di puncak atau menaklukkan sebuah jalur pendakian. Di balik setiap perjalanan terdapat proses belajar mengenai perencanaan, kedisiplinan, kerja sama, keberanian mengambil keputusan, hingga kepedulian terhadap lingkungan dan sesama. Dari komunitas yang berawal dari inisiatif Dani dan kini berkembang menjadi lebih dari 60 anggota, Raspala Bogor menunjukkan bahwa kecintaan terhadap alam dapat tumbuh menjadi gerakan positif. Petualangan pun akhirnya bukan hanya tentang sejauh mana kaki melangkah, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat dibawa pulang untuk lingkungan dan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....