Pendapatan Turun 61%, Tesla Percepat Transformasi Teknologi
- 29 Jan 2026 15:39 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Tesla mencatat laporan penurunan laba kuartal keempat hingga 61 persen pada Rabu, 28 Januari 2026, dipicu melemahnya penjualan kendaraan serta meningkatnya beban biaya operasional. Kondisi ini terjadi seiring langkah agresif perusahaan dalam memperbesar investasi teknologi di bawah kepemimpinan Elon Musk.
Capaian tersebut sekaligus menutup tahun yang penuh dinamika bagi produsen mobil listrik asal Amerika Serikat itu. Sepanjang tahun, Tesla diwarnai kontroversi politik Elon Musk serta keputusan pemegang saham yang menyetujui paket kompensasi jumbo demi mendorong terobosan teknologi besar di masa depan.
Secara finansial, laba Tesla pada kuartal yang berakhir 31 Desember tercatat sebesar 840 juta dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan 2,1 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tajam ini mencerminkan tekanan signifikan pada kinerja keuangan perusahaan.
Pendapatan Tesla juga mengalami koreksi dengan total 24,9 miliar dolar AS, turun sekitar 3,1 persen secara tahunan. Penurunan tersebut sejalan dengan melemahnya pengiriman kendaraan sepanjang kuartal keempat dan sepanjang tahun.
Manajemen perusahaan menyebut berbagai faktor tambahan yang membebani kinerja, mulai dari biaya restrukturisasi yang meningkat hingga lonjakan belanja riset dan pengembangan untuk kecerdasan buatan. Selain itu, dampak tarif perdagangan serta menyusutnya pendapatan dari kredit pajak emisi turut mempersempit ruang pertumbuhan.
Meski demikian, Tesla tetap memproyeksikan ekspansi besar di bidang teknologi dengan anggaran belanja modal 2026 yang diperkirakan melampaui 20 miliar dolar AS. Perusahaan juga berencana mengurangi produksi model kendaraan listrik mewah tertentu dan mengalihkan sebagian kapasitas pabrik untuk pengembangan robot humanoid.
Di tengah tantangan tersebut, Tesla belum memberikan proyeksi penjualan kendaraan untuk 2026 dan mengaitkannya dengan kondisi permintaan pasar secara keseluruhan. Meski saham sempat menguat dan sejumlah analis menilai hasil kinerja lebih baik dari perkiraan, risiko eksekusi tetap membayangi di tengah persaingan ketat industri kendaraan listrik dan ambisi besar transformasi Tesla menjadi perusahaan berbasis AI.