Aroma Tanah saat Hujan Disebut Petrichor, Ini Penjelasannya

  • 29 Sep 2026 21:32 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor — Aroma segar dan khas yang menyeruak saat tetesan air hujan pertama kali membasahi tanah kering tentu sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Sensasi menenangkan yang sering menyapa indra penciuman ini tidak muncul begitu saja secara kebetulan. Dalam dunia sains, fenomena terbentuknya bau tanah basah usai kemarau atau cuaca panas ini dikenal dengan istilah petrichor.

Istilah petrichor pertama kali diperkenalkan oleh dua ilmuwan asal Australia, Isabel Joy Bear dan Richard Thomas, pada tahun 1964 untuk menggambarkan aroma alami yang terlepas ke udara saat hujan turun. Namun, proses pembentukan aroma ini melibatkan reaksi kimia dan biologi yang cukup kompleks di dalam tanah. Di balik kesegarannya, ada peran penting dari bakteri mikro serta minyak alami yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan sekitar.

Merujuk pada penjelasan Office for Science and Society McGill University, aroma khas setelah hujan atau petrichor berasal dari berbagai senyawa yang dilepaskan ketika air hujan mengenai tanah yang kering. Salah satu senyawa penting adalah geosmin, yang dihasilkan oleh bakteri tanah dan memiliki aroma khas seperti tanah basah.

Ketika suasana di sekitar tanah sangat kering, bakteri tersebut memproduksi senyawa geosmin sebagai bentuk bertahan hidup. Bersamaan dengan itu, tanaman di sekitarnya juga melepaskan minyak alami yang terserap oleh pori-pori tanah dan bebatuan. Kedua bahan alami inilah yang menjadi "bahan baku" utama dari aroma khas yang siap terlepas begitu tersiram air.

Proses pelepasan aroma ke udara terjadi saat titik-titik air hujan jatuh dan menumbuk permukaan tanah. Tetesan air tersebut menangkap gelembung-gelembung udara kecil yang berada di dalam pori-pori tanah. Gelembung udara yang terperangkap ini kemudian bergerak cepat naik ke permukaan air lalu pecah, melepaskan partikel halus atau aerosol ke udara layaknya buih pada minuman berkarbonasi.

Partikel halus yang terbawa angin tersebut membawa molekul geosmin dan minyak tumbuhan hingga akhirnya terhirup oleh hidung manusia. Menariknya, indra penciuman manusia ternyata sangat peka terhadap keberadaan senyawa geosmin, bahkan meski jumlahnya di udara sangat sedikit. Kepekaan inilah yang membuat seseorang bisa langsung menyadari kehadiran aroma petrichor meskipun hujan baru saja menetes tipis.

Secara psikologis, aroma petrichor juga sering dikaitkan dengan perasaan tenang dan nyaman bagi banyak orang. Penjelasan dari sejumlah riset perilaku menyebutkan bahwa memori manusia cenderung mengasosiasikan aroma hujan dengan suasana sejuk, pemandangan alam yang segar, serta tanda dimulainya kehidupan baru bagi pepohonan setelah masa kekeringan

(Alfredo Abraham — Universitas Pakuan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....