Badak Putih Utara Berjuang Kembali dari Ancaman Kepunahan
- 14 Sep 2026 21:33 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Badak putih utara kini berada di titik paling kritis dalam sejarah keberadaannya
- Pada awal 2026, tim peneliti berhasil menghasilkan embrio baru sehingga total embrio badak putih utara yang telah dibuat mencapai 39
- Kisah badak putih utara menunjukkan bahwa menjaga keanekaragaman hayati bukan hanya soal melindungi hewan yang masih memiliki populasi besar
RRI.CO.ID, Bogor - Badak putih utara kini berada di titik paling kritis dalam sejarah keberadaannya. Subspesies yang pernah menghuni wilayah Afrika Timur dan Tengah tersebut hanya menyisakan dua individu yang diketahui masih hidup, yaitu Najin dan putrinya, Fatu. Keduanya merupakan betina sehingga tidak lagi memungkinkan terjadinya perkembangbiakan secara alami.
Informasi tersebut diperkuat oleh data yang dirilis oleh BioRescue dan Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research (Leibniz-IZW), yang terus mengembangkan teknologi reproduksi berbantuan untuk menyelamatkan badak putih utara. Pada awal 2026, tim peneliti berhasil menghasilkan embrio baru sehingga total embrio badak putih utara yang telah dibuat mencapai 39. Kondisi ini membuat spesies tersebut disebut mengalami kepunahan fungsional dari sisi reproduksi alami.
Upaya penyelamatan dilakukan dengan mengambil sel telur dari Fatu, kemudian menggabungkannya dengan materi genetik dari badak putih utara jantan yang telah diawetkan. Embrio yang dihasilkan disimpan dalam kondisi khusus sebelum nantinya ditransfer ke rahim badak putih selatan yang berperan sebagai induk pengganti.
Teknologi tersebut menjadi harapan karena Najin dan Fatu tidak dapat menjalani kehamilan secara alami. Para peneliti juga sebelumnya telah mengembangkan prosedur pengambilan sel telur, pematangan sel telur, fertilisasi in vitro, hingga pembekuan embrio. Rangkaian teknologi reproduksi berbantuan itu menjadi bagian penting dari proyek BioRescue.
Meski jumlah embrio terus bertambah, perjalanan untuk menghasilkan anak badak putih utara belum selesai. Sejumlah percobaan transfer embrio ke induk pengganti belum menghasilkan kehamilan jangka panjang. Pada 2025, misalnya, beberapa transfer embrio badak putih utara telah dilakukan, tetapi belum berhasil menghasilkan kehamilan yang bertahan.
Kisah badak putih utara menunjukkan bahwa menjaga keanekaragaman hayati bukan hanya soal melindungi hewan yang masih memiliki populasi besar. Ketika sebuah spesies berada di ambang kepunahan, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi salah satu jalan untuk mempertahankan materi genetiknya. Namun, keberhasilan tersebut tetap membutuhkan proses penelitian panjang dan penuh tantangan.
Keberadaan 39 embrio menjadi secercah harapan bagi masa depan badak putih utara. Para ilmuwan masih berupaya menemukan cara agar embrio tersebut dapat berkembang menjadi individu baru dan kemudian membangun kembali populasinya. Perjuangan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ketika habitat dan populasi satwa tidak dijaga sejak awal, manusia pada akhirnya harus menghadapi tantangan besar untuk mencegah sebuah spesies benar-benar hilang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....