Korban Bullying Memilih Diam, Psikolog Ungkap Penyebabnya

  • 12 Agt 2026 18:08 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Korban perundungan atau bullying tidak selalu mampu menceritakan pengalaman yang dialaminya kepada orang tua maupun guru. Dalam dialog Bogor Pagi Ini edisi Selasa, 11 Agustus 2026, Psikolog Anggia Crisanti, M.Psi., menjelaskan kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh respons psikologis anak ketika menghadapi masalah, mulai dari melawan, menghindar, hingga memilih diam.

Menurut Anggia, terdapat tiga respons yang umum muncul ketika seseorang menghadapi masalah, yakni fight, flight, dan freeze. Fight merupakan respons melawan, flight berupa tindakan menghindar atau pergi, sedangkan freeze membuat seseorang memilih diam dan terlihat kebingungan ketika menghadapi situasi yang dianggap mengancam.

"Secara umum manusia itu punya reaksi yang berbeda-beda ketika dihadapkan pada suatu masalah, yang pertama ada yang namanya fight atau melawan, kemudian yang kedua flight atau menghindar, dan yang satu lagi namanya freeze atau diam. Ketiga reaksi ini serng terjadi ada semua orang, termasuk kepada anak yang menjadi korban bullying," jelasnya.

Ia mengatakan respons anak terhadap bullying juga dapat dipengaruhi pola pengasuhan dan lingkungan yang dilihat sehari-hari. Anak dapat meniru cara orang tua atau orang di sekitarnya menghadapi konflik, baik dengan melawan secara agresif, menghindar, maupun memilih diam ketika menghadapi persoalan.

Selain itu, anak terkadang belum mampu mengenali bahwa dirinya sedang mengalami ketakutan, kemarahan, kesedihan, atau rasa malu akibat perundungan. Kondisi tersebut berkaitan dengan kemampuan anak memahami dan mengelola emosi sehingga penting bagi orang tua untuk memperkenalkan berbagai bentuk emosi sejak dini.

"Jangan-jangan bahkan dia tidak tahu sedang mengalami apa, jangan-jangan dia bahkan enggak ngerti bahwa itu takut. Karena itulah anak perlu memiliki kesadaran terhadap emosinya terlebih dahulu sebelum mampu menentukan respons yang tepat ketika menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan,” ucapnya.

Anggia menilai kecerdasan emosional perlu mendapatkan perhatian yang sama bahkan lebih besar dalam proses tumbuh kembang anak karena berkaitan dengan kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain. Penguatan kecerdasan emosional sejak dini juga dinilai penting untuk membantu anak mengenali situasi yang tidak sehat dan memahami bahwa dirinya tidak layak diperlakukan secara buruk.

"Kalau kecerdasan emosional itu minim, semua kecerdasan intelektual menjadi tidak ada maknanya, oleh karena itu sangat penting dan harus menjadi prioritas utama orang tua termasuk lingkungan,” tambahnya.

Ia menegaskan pengembangan kecerdasan emosional perlu dilakukan bersama oleh keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar agar anak memiliki kemampuan menghadapi berbagai persoalan sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....