Remaja Bogor Ajak Lawan Bullying lewat Seni dan Empati

  • 24 Feb 2026 11:09 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Suara anak muda kembali menggema dari Studio Pro 1 RRI Bogor melalui program Idola Indonesia Layak Anak. Kali ini, sosok inspiratif yang hadir adalah Radiestya Thufaila Dirgantara atau akrab disapa Adis, seorang pelajar SMPN 4 Kota Bogor berusia 13 tahun yang dipercaya sebagai Duta Anti-Bullying KPAID Kota Bogor.

Adis dikenal sebagai remaja berprestasi di bidang seni dan literasi. Ia pernah menjuarai Festival Tunas Bahasa Ibu dan mewakili Kota Bogor di tingkat provinsi. Selain itu, Adis juga aktif sebagai field commander marching band serta Wakil Ketua Majelis Perwakilan Kelas (MPK) di sekolahnya.

Dalam dialog bersama RRI Bogor, Adis menekankan bahwa keberanian berbicara adalah kunci utama dalam melawan perundungan. Menurutnya, keberanian bukan berarti tidak takut, melainkan berani mencoba meski rasa takut masih ada.

“Saya percaya, suara itu bukan hanya untuk bernyanyi, tapi juga untuk melindungi,” ujar Adis, Selasa, 24 Februari 2026.

Sebagai Duta Anti-Bullying, Adis kerap mengedukasi teman-teman sebayanya dengan pendekatan yang sederhana dan dekat dengan keseharian remaja. Ia menjelaskan dampak perundungan yang dapat menggerus kepercayaan diri, menimbulkan trauma, hingga membuat korban takut datang ke sekolah.

Adis juga mengajak teman-temannya untuk membangun empati. Menurutnya, tindakan merendahkan orang lain bukanlah bentuk kehebatan, melainkan cerminan kurangnya rasa saling menghargai.

“Menjadi keren itu bukan dengan menjatuhkan orang lain, tapi saling melindungi,” tuturnya.

Dalam upaya menyuarakan pesan anti-perundungan, Adis memanfaatkan kemampuan seni yang dimilikinya, khususnya puisi. Ia meyakini puisi memiliki kekuatan emosional yang mampu menyentuh hati tanpa terkesan menggurui. Salah satu puisinya berjudul “Suara yang Tak Boleh Dipendam”, yang menggambarkan luka batin korban perundungan yang kerap terabaikan.

Adis juga berbagi pengalamannya saat mendampingi korban perundungan. Ia mengatakan, korban yang dirangkul dan didukung secara perlahan mampu bangkit kembali dan menjadi lebih terbuka di lingkungan sekolah. Karena itu, ia mengingatkan agar siswa tidak menjadi penonton saat melihat perundungan terjadi, melainkan berani melapor kepada pihak yang lebih dewasa.

Menutup perbincangan, Adis berharap Kota Bogor benar-benar menjadi kota yang ramah anak, tidak hanya sebagai slogan, tetapi tercermin dalam budaya sehari-hari. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan untuk menciptakan ruang aman bagi anak-anak.

“Keberanian untuk berbicara bukan tanda kelemahan, tapi bentuk kepedulian terhadap diri sendiri,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....