Membaca Langit Demi Panen Aman di tengah Perubahan Iklim

  • 08 Jun 2026 09:00 WIB
  •  Bogor
Poin Utama
  • Talkshow Aksi Kita SAPA BUMI bertajuk “Membaca Langit, Menjaga Panen: Peran AWS di Tengah Cuaca Ekstrem”
  • Dr. Idung menjelaskan bahwa perubahan iklim global telah mengubah pola cuaca yang selama ini menjadi acuan masyarakat
  • Said Abdullah yang juga merupakan Koordinator Nasional KRKP menegaskan bahwa petani dan nelayan kecil merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim

RRI.CO.ID, Bogor- Perubahan iklim yang semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir membawa tantangan baru bagi petani dan nelayan di Indonesia. Pola musim yang tidak menentu membuat aktivitas produksi pangan menjadi lebih berisiko. Kondisi ini menuntut para pelaku sektor pertanian dan perikanan untuk memiliki kemampuan beradaptasi, salah satunya dengan memanfaatkan informasi cuaca yang lebih akurat sebagai dasar pengambilan keputusan.

Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam talkshow Aksi Kita SAPA BUMI bertajuk “Membaca Langit, Menjaga Panen: Peran AWS di Tengah Cuaca Ekstrem” yang diselenggarakan oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan bersama RRI Pro 2 Bogor pada Sabtu, 6 Juni 2026. Acara tersebut menghadirkan Dr. Idung Risdiyanto sebagai narasumber, dengan dipandu oleh Dely Tambunan dan Said Abdullah.

Dalam pemaparannya, Dr. Idung menjelaskan bahwa perubahan iklim global telah mengubah pola cuaca yang selama ini menjadi acuan masyarakat. Fenomena seperti musim hujan yang datang terlambat, curah hujan yang tidak merata, hingga periode kemarau yang lebih panjang membuat prediksi musim semakin sulit dilakukan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani yang bergantung pada siklus tanam, tetapi juga nelayan yang harus memperhitungkan kondisi cuaca sebelum melaut.

Salah satu solusi yang dinilai mampu membantu masyarakat menghadapi kondisi tersebut adalah pemanfaatan Automatic Weather Station (AWS). Teknologi ini berfungsi sebagai sistem pemantauan cuaca otomatis yang mampu menyajikan data secara langsung dari lokasi tertentu. Kehadiran AWS memungkinkan informasi yang diperoleh lebih spesifik dan relevan dibandingkan perkiraan cuaca berskala umum yang mencakup wilayah yang sangat luas.

Menurut Dr. Idung, data cuaca lokal yang tersedia secara real-time dapat menjadi alat bantu penting bagi petani dalam menentukan waktu tanam, pemupukan, hingga panen. Sementara bagi nelayan, informasi tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan kondisi angin, hujan, dan gelombang sehingga aktivitas melaut dapat dilakukan dengan lebih aman. Dengan demikian, risiko kerugian akibat cuaca yang tidak terduga dapat ditekan sejak awal.

Pembahasan juga menyinggung kemungkinan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem di masa mendatang. Fenomena seperti El Niño berkekuatan tinggi berpotensi menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih lama di sejumlah daerah. Oleh karena itu, peningkatan literasi cuaca dan pemanfaatan teknologi informasi iklim berbasis lokal dinilai menjadi langkah penting agar masyarakat mampu beradaptasi terhadap perubahan yang terus berlangsung.

Sementara itu, Said Abdullah yang juga merupakan Koordinator Nasional KRKP menegaskan bahwa petani dan nelayan kecil merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Ia menilai pengetahuan lokal yang selama ini dimiliki masyarakat tetap menjadi modal berharga, namun perlu diperkuat dengan akses terhadap data cuaca yang lebih akurat. Melalui program Aksi Kita SAPA BUMI, KRKP dan RRI Bogor berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, memahami pentingnya membaca tanda-tanda cuaca, memanfaatkan teknologi, serta membangun ketahanan pangan yang lebih kuat di tengah ancaman perubahan iklim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....