Bulan Jadi Merah saat Ramadan, Ini Penjelasannya
- 25 Feb 2026 20:32 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Gerhana bulan total kembali menghiasi langit Indonesia pada 3 Maret 2026, bertepatan dengan bulan Ramadan. Fenomena astronomi ini menjadi momen yang dinantikan karena tidak terjadi setiap tahun. Berdasarkan informasi dari laman Observatorium Bosscha, gerhana bulan total termasuk peristiwa langka yang hanya terjadi dalam rentang waktu tertentu ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris.
Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika seluruh atau sebagian permukaan Bulan tidak menerima cahaya Matahari akibat terhalang oleh Bumi. Peristiwa ini hanya bisa terjadi saat fase purnama. Namun, tidak semua purnama menghasilkan gerhana karena orbit Bulan memiliki kemiringan sekitar lima derajat terhadap bidang ekliptika, sehingga ketiga benda langit tersebut tidak selalu berada dalam satu garis lurus sempurna.
| Baca juga: Cucurak Bukan Sekadar Makan Bersama |
Perbedaan utama gerhana bulan total dengan jenis gerhana lainnya terletak pada kondisi ketika seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi. Pada fase ini, Bulan akan tampak berwarna kemerahan, fenomena yang kerap disebut sebagai “blood moon”. Warna tersebut muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi yang menyaring cahaya biru dan menyisakan spektrum merah.
Mengutip informasi dari laman Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan IPA Universitas Surabaya, gerhana bulan total 3 Maret 2026 diperkirakan berlangsung mulai fase parsial pukul 16.50 WIB. Totalitas dimulai pukul 18.04 WIB, dengan puncak gerhana pada 18.34 WIB. Fase total berakhir pukul 19.02 WIB dan gerhana parsial berakhir sekitar 20.17 WIB. Waktu pengamatan juga disesuaikan untuk wilayah WITA dan WIT.
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan bahwa fenomena ini dapat diamati secara langsung dengan mata telanjang selama cuaca cerah. Meski demikian, penggunaan teleskop atau teropong akan membantu memperjelas detail permukaan Bulan saat memasuki fase totalitas.
Dibandingkan dengan gerhana matahari, gerhana bulan lebih aman untuk dilihat tanpa alat pelindung khusus. Hal ini karena cahaya Bulan tidak berbahaya bagi mata. Selain itu, cakupan wilayah yang dapat menyaksikan gerhana bulan juga lebih luas, selama Bulan berada di atas horizon saat peristiwa berlangsung.
Dengan kemunculan yang tidak rutin setiap tahun, gerhana bulan total 3 Maret 2026 menjadi kesempatan berharga bagi masyarakat untuk menikmati fenomena langit yang spektakuler. Informasi jadwal dan penjelasan ilmiah mengenai peristiwa ini dapat diakses melalui publikasi Observatorium Bosscha dan Badan Riset dan Inovasi Nasional sebagai rujukan resmi astronomi di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....