Cucurak Bukan Sekadar Makan Bersama
- 12 Feb 2026 09:29 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, BOGOR — Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Sunda memiliki tradisi khas yang dikenal dengan cucurak. Tradisi ini menjadi pembahasan dalam acara Mutiara Pagi yang disiarkan Programa 1 RRI Bogor, Senin, 9 Februari 2026, dengan menghadirkan narasumber Ustadz Mahfud Hidayat.
Dalam siaran tersebut, Ustadz Mahfud Hidayat menjelaskan bahwa cucurak merupakan tradisi makan bersama yang dilakukan menjelang Ramadan sebagai bentuk rasa syukur dan sarana mempererat silaturahmi antaranggota keluarga maupun masyarakat.
“Cucurak bukan sekadar makan bersama, tetapi memiliki nilai spiritual dan sosial yang sangat kuat. Di dalamnya ada rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT sebelum memasuki bulan Ramadan,” ujar Ustadz Mahfud.
Ia menambahkan, tradisi cucurak biasanya dilakukan dengan menyajikan makanan khas Sunda seperti nasi liwet, lauk pauk sederhana, serta lalapan yang disantap bersama-sama dalam satu wadah. Kebersamaan ini mencerminkan nilai kesederhanaan, persaudaraan, dan kebersamaan yang sejalan dengan semangat Ramadan.
Menurut Ustadz Mahfud, cucurak juga dapat menjadi momentum untuk saling memaafkan dan membersihkan hati sebelum menjalani ibadah puasa.
“Ramadan adalah bulan penyucian diri. Maka, cucurak bisa dimaknai sebagai ajang membersihkan hati, memperbaiki hubungan, dan menyiapkan diri secara lahir dan batin,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar tradisi cucurak tidak dimaknai secara berlebihan hingga mengarah pada pemborosan. Esensi utama cucurak, kata dia, terletak pada niat dan makna kebersamaan, bukan pada kemewahan hidangan.
Melalui acara Mutiara Pagi, RRI Bogor terus menghadirkan siaran yang tidak hanya memberikan pencerahan spiritual, tetapi juga mengangkat nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
Dengan memahami makna cucurak, diharapkan masyarakat dapat menyambut Ramadan dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan semangat kebersamaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....