Efek Domino Program MBG Dorong Perbaikan Gizi, Pendidikan, dan Ekonomi di Bogor

  • 07 Apr 2026 15:37 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak positif di tengah masyarakat. Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga memberikan efek luas pada sektor pendidikan dan ekonomi.

Program MBG hadir sebagai upaya pemerintah dalam menekan angka stunting yang masih menjadi tantangan nasional. Penurunan prevalensi stunting dinilai belum mencapai target, sehingga diperlukan intervensi yang lebih masif dan terintegrasi.

Dalam dialog Bogor Pagi ini edisi Senin, 6 April 2026, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Badan Gizi Nasional, Haidir, menjelaskan bahwa program MBG menyasar berbagai kelompok masyarakat. Sasaran tersebut meliputi peserta didik hingga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Program MBG ini bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap makanan bergizi. Selain itu, kami juga ingin membangun pemahaman tentang pentingnya pola makan sehat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemberian makanan bergizi secara rutin dapat mendukung tumbuh kembang anak. Dalam jangka panjang, hal ini akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia.

“Dengan asupan gizi yang baik, anak-anak akan lebih sehat dan mampu mengikuti proses belajar dengan optimal. Ini menjadi investasi penting bagi masa depan,” katanya.

Dari sisi pendidikan, program ini dinilai mampu meningkatkan konsentrasi dan prestasi belajar siswa. Asupan gizi yang cukup berperan penting dalam menunjang aktivitas belajar di sekolah.

Selain itu, program MBG juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Keterlibatan petani, nelayan, dan pelaku UMKM sebagai pemasok bahan pangan turut menggerakkan roda perekonomian lokal.

“Program ini menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat. Banyak sektor yang terlibat dan mendapatkan manfaat langsung dari pelaksanaannya,” ucapnya.

Program MBG juga membuka lapangan kerja baru melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setiap dapur mampu menyerap puluhan tenaga kerja dari berbagai latar belakang. Meski demikian, pelaksanaan program ini masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah kualitas sarana dapur yang belum merata dan masih perlu ditingkatkan.

“Setiap dapur mempekerjakan sekitar 50 orang. Ini menjadi salah satu kontribusi nyata dalam mengurangi pengangguran. Kami terus melakukan evaluasi dan perbaikan, baik dari sisi infrastruktur maupun sumber daya manusia. Tujuannya agar kualitas layanan tetap terjaga,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam mendukung program MBG. Kolaborasi berbagai pihak dinilai menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Program ini membutuhkan dukungan bersama. Masyarakat bisa terlibat sebagai pemasok, relawan, maupun pengawas,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....