Surplus Dagang Agustus 2026 Melonjak, Mendag Ungkap Faktor Penopang

  • 06 Okt 2026 15:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD3,55 miliar pada Agustus 2026, meningkat 2.850% dibandingkan surplus Juli 2026 yang hanya USD0,12 miliar.
  • Surplus perdagangan Agustus 2026 didorong utamanya oleh kinerja sektor nonmigas yang mencatat surplus USD6,09 miliar.
  • Sektor migas masih menjadi beban neraca perdagangan dengan mencatat defisit sebesar USD2,54 miliar pada periode yang sama.

RRI.CO.ID, Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD3,55 miliar (Rp63,54 triliun) pada Agustus 2026. Nilai tersebut melonjak dari surplus Juli 2026 yang tercatat sebesar USD0,12 miliar (Rp2,15 triliun).

Penguatan surplus perdagangan Agustus terutama berasal dari surplus sektor nonmigas sebesar USD6,09 miliar (Rp108,99 triliun). Sementara itu, sektor migas masih mencatat defisit sebesar USD2,54 miliar (Rp45,46 triliun).

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, surplus perdagangan ditopang kinerja sejumlah komoditas utama. Komoditas tersebut meliputi lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

“Melonjaknya surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026 membuktikan ketahanan sektor eksternal Indonesia yang terus terjaga. Surplus perdagangan ditopang oleh kinerja komoditas andalan seperti lemak dan minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja,” ujar Budi di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026.

Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar pada Agustus 2026 dengan nilai USD3,95 miliar (Rp70,70 triliun). Berikutnya, bahan bakar mineral menyumbang USD2,45 miliar (Rp43,85 triliun) dan besi serta baja sebesar USD1,78 miliar (Rp31,86 triliun).

Dari sisi negara mitra, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan nilai USD2,41 miliar (Rp43,13 triliun). Selanjutnya, India menyumbang USD1,19 miliar (Rp21,30 triliun) dan Malaysia sebesar USD0,83 miliar (Rp14,86 triliun).

Budi mengatakan, surplus perdagangan Januari-Agustus 2026 mencapai USD7,25 miliar (Rp129,76 triliun). Capaian tersebut terdiri atas surplus nonmigas USD28,54 miliar (Rp510,65 triliun) dan defisit migas USD21,29 miliar (Rp381,06 triliun).

Budi menilai capaian tersebut menunjukkan fundamental perdagangan Indonesia tetap tangguh di tengah dinamika global. Kondisi itu tercermin dari surplus perdagangan yang tetap terjaga sepanjang Januari-Agustus 2026.

Pada Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai USD26,61 miliar (Rp476,16 triliun). Angka tersebut meningkat 1,51 persen dibandingkan Juli 2026 dan tumbuh 6,72 persen dibandingkan Agustus 2025.

Kenaikan ekspor secara bulanan didorong pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 0,75 persen dan ekspor migas sebesar 25,98 persen. Ekspor industri pengolahan juga tumbuh 2,46 persen dibandingkan Juli 2026.

“Capaian ekspor Indonesia sebesar USD26,61 miliar (Rp476,16 triliun) pada Agustus 2026 membuktikan ketangguhan perdagangan luar negeri kita. Di tengah dinamika ekonomi global, produk-produk ekspor Indonesia tetap kompetitif dan mencatatkan tren pertumbuhan yang positif,” kata Budi.

Secara kumulatif, ekspor Januari-Agustus 2026 mencapai USD193,64 miliar (Rp3.465,29 triliun) atau tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Ekspor nonmigas tumbuh 5,48 persen menjadi USD185,63 miliar (Rp3.322,01 triliun), sedangkan ekspor migas terkontraksi 9,98 persen menjadi USD8,01 miliar (Rp143,25 triliun).

Industri pengolahan menjadi penopang utama ekspor Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026. Nilai ekspor sektor tersebut mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855 triliun) dengan kontribusi sekitar 82,40 persen terhadap total ekspor dan pertumbuhan sebesar 7,87 persen.

Budi menyebut keberhasilan hilirisasi industri menjadi penopang utama dan motor pertumbuhan ekspor nasional. Hal itu tercermin dari kontribusi industri pengolahan yang mencapai 82,40 persen terhadap total ekspor.

“Keberhasilan hilirisasi industri kini terbukti menjadi penopang utama dan motor pertumbuhan ekspor nasional. Dengan kontribusi yang mencapai 82,40 persen dari pangsa ekspor dan nilai ekspor yang menembus USD159,55 miliar (Rp2.855 triliun) pada Januari-Agustus 2026,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....