Kolaborasi Riset dan Industri Ditargetkan Perkuat Inovasi Padi Indonesia
- 06 Okt 2026 07:14 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketahanan pangan Indonesia dinilai membutuhkan lebih dari sekadar peningkatan produksi. Inovasi harus relevan dengan kondisi lokal dan memberi manfaat nyata bagi petani.
Perihal ini, mengemuka semangat kolaborasi yang menguat dalam Indonesia Petani MAJU Summit 2026. Festival Padi Petani MAJU mempertemukan industri, peneliti, perguruan tinggi, dan pengembang benih.
Tiga Nota Kesepahaman ditandatangani Syngenta Indonesia dengan tiga mitra strategis. Mitra tersebut adalah WinAll Hi-Tech Seed, CLRRI Vietnam, dan Universitas Jenderal Soedirman.
Kemitraan ini memperkuat riset dan inovasi padi nasional. Tujuannya menghadirkan solusi relevan untuk kebutuhan pertanian Indonesia.
"Inovasi berdampak besar. Ketika berbagai pihak bekerja bersama dari kebutuhan petani," ujar Customer Business Manager Syngenta Indonesia Huy Cuong Nguyen dalam keterangan tertulis, Selasa, 6 Oktober 2026.
"Dengan menghubungkan ilmu, genetik, teknologi, dan pemahaman lokal, solusi lahir lebih cepat. Solusi itu diharapkan memberi nilai nyata bagi petani dan ketahanan pangan."
Dialog teknologi padi bertema Innovating Together for Farmers digelar. Dialog mempertemukan ahli benih, peneliti internasional, industri, dan akademisi.
Hadir Cherry Wang dari WinAll, Dr. Suresh Babu Kadaru dari IRRI, dan Tran Ngoc Thach dari CLRRI. Turut hadir Tey Hui Xiang dari Syngenta dan Prof. Totok Agung dari Unsoed.
Diskusi menyoroti pentingnya menghubungkan riset dengan penerapan di lapangan. Inovasi harus mempertimbangkan agroekosistem lokal, kebutuhan petani, dan selera konsumen.
Teknologi tidak boleh berhenti di laboratorium penelitian saja. Teknologi harus bisa diadopsi luas dan memberi manfaat nyata.
"Inovasi harus menghasilkan nilai nyata bagi petani, Teknologi baik perlu dipadukan dengan pemahaman lokal agar efektif," ujar Cherry Wang.
Pendekatan ini menegaskan pertanian butuh keterhubungan banyak elemen. Elemen itu meliputi genetik, pemuliaan varietas, kesehatan tanaman, dan pengalaman petani.
Tiga kemitraan memperkuat rantai inovasi padi dari riset hingga lahan. Bersama WinAll, kolaborasi fokus pada evaluasi germplasm padi hibrida berdaya hasil tinggi.
Kerja sama ini membuka peluang pengembangan materi padi sesuai kondisi Indonesia. Dengan CLRRI, fokusnya pengembangan padi premium, aromatik, dan berdaya hasil tinggi.
Kemitraan ini juga membuka ruang pertukaran pengetahuan dan sumber genetik. Bersama Unsoed, kerja sama meliputi inovasi varietas, riset kesehatan tanaman, dan validasi teknologi.
"Kolaborasi kampus dan industri membuat riset tidak berhenti di akademik. Inovasi harus divalidasi sesuai kebutuhan nyata di lapangan," ujar Prof. Totok Agung.
Ketiga kemitraan mencerminkan pendekatan ekosistem untuk tantangan pertanian. Dengan menggabungkan keahlian dan sumber daya, inovasi lahir lebih kolaboratif dan berdampak luas.
Kemajuan pertanian Indonesia merupakan tanggung jawab bersama semua pihak. Kolaborasi industri, pemerintah, peneliti, kampus, dan petani menjadi kunci pertanian produktif dan berkelanjutan.
Melalui kemitraan dan pertukaran pengetahuan, inovasi padi relevan dapat terus didorong. Inovasi itu mendukung produktivitas, kesejahteraan petani, dan ketahanan pangan nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....