Produsen Rempah Dunia Sepakati Transformasi Menuju Industri Hilir

  • 01 Okt 2026 00:33 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Negara produsen rempah dunia menyepakati transformasi rantai pasok dari ekspor bahan mentah menuju produk hilir bernilai tambah.
  • Pemerintah menyusun peta jalan jangka panjang guna memperkuat ekosistem pengolahan komoditas perkebunan dan menyejahterakan petani pedesaan.
  • Kolaborasi multilateral antara WTO dan IPC memperluas akses pasar serta standardisasi produk olahan lada internasional.

RRI.CO.ID, Jakarta - Negara produsen rempah dunia berkomitmen mengubah pola ekspor bahan mentah menjadi produk hilir bernilai tinggi. Kesepakatan percepatan transformasi rantai pasok tersebut berlangsung di Hotel Borobudur Jakarta pada Rabu, 30 September 2026.

Langkah hilirisasi komoditas perkebunan diyakini mampu memperluas penetrasi pasar ekspor menuju rantai pasok industri modern. Ketergantungan pada penjualan biji lada kering dinilai tidak lagi menguntungkan stabilitas ekonomi petani pedesaan.

Executive Director International Pepper Community (IPC), Marina Novira Anggraini, menyoroti dinamika produksi komoditas perkebunan. Pelaku usaha kini dituntut mengembangkan formulasi produk turunan seperti minyak atsiri dan konsentrat perisa alami.

"Tentu saja kondisi di setiap negara produsen tidaklah sama. Sebagian menghadapi tekanan iklim dan produktivitas, sementara yang lain menghadapi lonjakan biaya, keterbatasan tenaga kerja, perubahan standar pasar, serta kebutuhan mendesak untuk menciptakan nilai tambah dari hasil panen mereka. Dalam banyak situasi, berbagai tekanan berat ini saling berkaitan satu sama lain. Hal yang paling krusial bagi kita adalah bahwa persoalan ini tidak lagi terisolasi di dalam batas-batas nasional suatu negara. Perubahan standar atau ketentuan pasar di satu kawasan dapat langsung memengaruhi produsen serta eksportir di wilayah lain. Pergeseran pola permintaan konsumen juga terbukti memengaruhi cara lada diproduksi, diolah, hingga diperdagangkan," kata Marina.

Sektor kecantikan dan industri perawatan tubuh global kini melirik ekstrak rempah sebagai bahan baku utama. Pemanfaatan inovasi kimia hijau turut membuka peluang bagi produk olahan rempah bersaing di tingkat internasional.

Potensi pasar produk turunan tersebut diperkirakan mampu melampaui nilai total perdagangan komoditas konvensional saat ini. Peningkatan kapasitas mesin pengolahan di sentra produksi menjadi kunci percepatan industrialisasi sektor perkebunan rakyat.

Direktur Perdagangan Internasional Kementerian Luar Negeri, Ditya Agung Nurdianto, menegaskan arah transformasi komoditas perkebunan nasional. Pemerintah menyusun peta jalan jangka panjang guna memperkuat ekosistem pengolahan komoditas perkebunan domestik nusantara.

"Tantangan bagi kita saat ini bukan sekadar memproduksi dan mengekspor lebih banyak lada, melainkan bagaimana menciptakan nilai tambah yang lebih besar dari komoditas tersebut. Hal ini mengharuskan kita bergerak lebih jauh ke rantai nilai yang lebih tinggi melalui penguatan pemrosesan, pengembangan produk turunan, pembangunan jenama dan indikasi geografis, serta jaminan mutu, keamanan pangan, keberlanjutan, dan keterlacakan. Tujuan kami tidak hanya mempertahankan reputasi historis Indonesia sebagai lumbung rempah, tetapi juga menerjemahkan warisan ini menjadi produk-produk modern, merek yang lebih kuat, peluang pasar baru, dan peningkatan kemakmuran bagi para produsen. Para petani harus tetap menjadi inti utama dari seluruh proses transformasi ini," ujar Ditya.

Kebijakan terpadu tersebut diarahkan untuk memacu ekspor produk hilir bernilai tambah tinggi menuju negara mitra. Hilirisasi produk perkebunan mampu menjamin stabilitas pendapatan petani sekaligus memutus ketergantungan pada tengkulak tradisional.

Direktur Perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Kementerian Perdagangan, Dina Kurniasari, memaparkan strategi diplomasi dagang. Pendaftaran sertifikasi indikasi geografis memberikan perlindungan mutu serta kepastian hukum di pasar premium internasional.

"Perundingan di WTO, khususnya mengenai akses pasar pertanian dan ketersediaan ruang kebijakan bagi negara berkembang, tetap sangat relevan untuk memastikan produk seperti lada mampu bersaing di pasar internasional sekaligus melindungi petani kecil. Oleh karena itu, kerja sama melalui WTO dan IPC dapat saling melengkapi satu sama lain. WTO menyediakan kerangka kerja yang lebih luas bagi tata niaga pertanian internasional, sementara IPC dapat menangani isu-isu spesifik komoditas lada seperti produktivitas, peningkatan mutu, keberlanjutan, hingga gejolak pasar. Koordinasi yang lebih kokoh di antara sesama negara produsen akan mewujudkan industri lada dunia yang jauh lebih kompetitif, tangguh, dan berkelanjutan," ucap Dina.

Kesepakatan perdagangan multilateral harus memastikan produk hilir negara berkembang tidak mengalami diskriminasi tarif ekspor. Regulasi internasional yang transparan dapat mendorong arus investasi industri pengolahan masuk menuju daerah sentra.

Seluruh negara anggota forum perkebunan terus menyelaraskan standardisasi uji laboratorium bagi komoditas ekspor olahan. Keseragaman metode pengujian kualitas komoditas dapat menekan angka penolakan kargo di berbagai pelabuhan tujuan ekspor.

Keterlibatan perusahaan swasta nasional mempercepat adopsi teknologi pengemasan higienis demi penyerapan panen petani berkelanjutan. Langkah hilirisasi menuju industrialisasi komoditas perkebunan diyakini mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari krisis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....