KADIN Nilai Kemudahan Impor Bahan Baku Perkuat Industri

  • 24 Sep 2026 20:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • KADIN menilai bahwa kemudahan mendapatkan bahan baku merupakan faktor kunci untuk memperkuat industri dalam negeri Indonesia.
  • Sekitar 60 hingga 70 persen bahan baku industri Indonesia masih bergantung pada impor, mencerminkan ketergantungan yang signifikan terhadap pasar internasional.
  • Wakil Ketua Umum KADIN Perindustrian Saleh Husin menekankan bahwa pemerintah harus menghilangkan berbagai hambatan perkembangan industri melalui kebijakan yang tepat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) menilai kemudahan mendapatkan bahan baku bisa memperkuat industri dalam negeri. Pasalnya, sekitar 60 hingga 70 persen bahan baku industri Indonesia masih tergantung pada impor.

Wakil Ketua Umum KADIN Perindustrian, Saleh Husin menyebut kebijakan pemerintah harus ditujukan untuk menghilangkan berbagai hambatan perkembangan industri. Menurut pandangannya, kemudahan mendapat bahan baku menjadi kebutuhan utama sektor usaha.

Saleh mengatakan proses masuknya bahan baku yang masih rumit bisa meningkatkan biaya yang harus ditanggung industri. Situasi tersebut berpeluang untuk menurunkan daya saing produk dalam negeri saat bersaing di pasar.

“Kita menyampaikan kepada berbagai kementerian dan lembaga, misalnya industri bahan bakunya 60 sampai 70 persen masih impor. Khusus bahan baku untuk industri sebaiknya dipermudah karena kalau masuknya berbelit-belit akibatnya harganya lebih mahal,” ucap Saleh dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Kamis 24 September 2026.

Ia menuturkan pemerintah harus memastikan kebijakan kementerian dan lembaga mampu mempermudah industri untuk mendapatkan bahan baku. Kemudahan tersebut diharapkan bisa membuat biaya penyediaan bahan baku menjadi lebih murah.

Menurutnya, daya saing industri bukan sekedar dipengaruhi kemampuan produksi, melainkan struktur biaya yang harus ditanggung pengusaha. Semakin tinggi biaya yang muncul dalam proses pemasokan, maka semakin besar juga tekanan terhadap biaya produk domestik.

“Produk-produk yang dihasilkan dalam negeri kurang mempunyai daya saing karena biaya energi yang tinggi. Yang utama saat ini perlu konsistensi peraturan dari lembaga-lembaga agar dunia usaha mempunyai satu kerangka untuk memprediksi biaya,” katanya.

Masalah bahan baku tersebut menjadi tantangan industri Indonesia untuk berkembang dan menjadi semakin kompetitif. Kadin sebelumnya membahas biaya energi dan logistik yang masih relatif tinggi ketimbang beberapa negara di area ASEAN.

Saleh menyatakan industri membutuhkan dukungan dari berbagai sektor agar bisa berkembang dan bersaing dengan produk negara lain. Selain bahan baku, biaya energi dan logistik yang berdaya saing juga menarik perhatian dunia usaha.

Kemudahan memperoleh bahan baku juga berhubungan dengan upaya pemerintah dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut. Saleh menilai pertumbuhan industri dalam negeri juga menjadi faktor penting untuk mendukung pencapaian target tersebut.

Menurut dia, industri yang tumbuh bukan sekedar meningkatkan aktivitas ekonomi, melainkan juga memperluas lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Oleh karena itu, hambatan yang membuat biaya industri meningkat harus dikurangi melalui kerja sama pemerintah dan pelaku usaha.

KADIN berencana untuk terus menyampaikan berbagai tantangan industri kepada pemerintah melalui lembaga dan kementerian terkait. Masukan tersebut diharapkan bisa mendorong kebijakan agar bahan baku lebih mudah didapatkan dengan biaya yang relatif terjangkau.

“Kita harus terus menyuarakan kepada pemerintah kalau kita pengen maju. Contohnya seperti memberi tahu tentang hambatan-hambatan yang harus dihilangkan agar industri bisa tumbuh,” ujarnya.

Ia juga menekankan kemudahan mendapat bahan baku pada akhirnya diarahkan untuk memperkuat daya saing industri domestik. Dengan biaya produksi yang efisien, industri diharapkan dapat berkembang juga menghadapi persaingan produk negara lain. (Shafira Nursyifa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....