BPDP Kemenkeu: 80 Persen Ekspor Sawit Indonesia Sudah Berbentuk Produk Hilir

  • 30 Jul 2026 07:49 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai ekspor sawit nasional setiap tahunnya mencapai lebih dari USD20 miliar, di mana lebih dari 80 persen berbentuk produk hilir.

RRI.CO.ID, Pangkalan Bun – Sawit kini bukan hanya sekadar komoditas ekspor unggulan, tetapi sudah menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional. Demikian disampaikan Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Zaid Burhan Ibrahim.

“Nilai ekspor sawit Indonesia setiap tahunnya mencapai lebih dari USD20 miliar,” ujarnya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu, 29 Juli 2026. “Ini membuat komoditas tersebut menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara.”

Zaid menambahkan struktur ekspor sawit Indonesia sekarang sudah mengalami perubahan. “Saat ini, lebih dari 80 persen ekspor sawit kita sudah berbentuk produk hilir, bukan lagi minyak mentah,” ujarnya.

Hal tersebut menunjukkan keberhasilan hilirisasi sektor sawit dalam memberikan nilai tambah bagi industri nasional. Produk hilir tersebut misalnya crude palm oil (CPO) untuk pangan, oleokimia untuk consumer goods, dan biofuel sebagai sumber energi.

Selain menghasilkan devisa, secara tidak langsung komoditas sawit juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi melalui sektor perkebunan. Pada 2025, sektor perkebunan memberikan kontribusi bagi produk domestik bruto (PDB) sekitar 4,5 persen.

“Sektor sawit juga menjadi bagian penting dari sektor pertanian, yang menjadi penopang utama perekonomian nasional,” ucapnya. “Namun, yang terpenting dari seluruh capaian itu adalah peran besar pekebun rakyat yang mencakup 41 persen dari industri sawit nasional.”

Menurut Zaid, pekebun rakyat menghasilkan lebih dari 16 juta ton produk sawit setiap tahunnya. “Ini menunjukkan mereka bukan sekedar pelengkap, tetapi menjadi rantai pasok nasional yang penting,” ujarnya.

Dari sisi ketenagakerjaan, sektor sawit menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja. Baik yang bekerja langsung di perkebunan, maupun yang terserap di sektor transportasi, logistik dan UMKM.

Kontribusi sawit yang signifikan bagi perekonomian nasional membuat pemerintah terus mendorong produktivitas sawit. Karena itu, BPDP melaksanakan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dalam bentuk hibah bagi pekebun sawit rakyat.

Bentuknya berupa dana Rp60 juta per hektar per orang, maksimal diberikan untuk 4 hektar. Dengan demikian, pekebun sawit rakyat bisa terus meremajakan pohon-pohon sawit yang sudah tua dan produktivitasnya berkurang.

Zaid menegaskan tantangan utama pengembangan komoditas ini memang masalah produktivitas. “Yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas sawit tanpa perlu menambah lahan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....