Tembus 66,85 Miliar Dolar AS, Industri Pengolahan Jadi Motor Ekspor

  • 06 Mei 2026 10:19 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Industri pengolahan menjadi motor utama ekspor nasional.
  • Kinerja ekspor meningkat didorong sektor migas serta permintaan global komoditas logam.
  • Sektor manufaktur mendominasi ekspor 82,25 persen meski sektor pertanian dan tambang melemah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekspor nasional. Budi menyebut total pengiriman barang ke luar negeri dari Januari-Maret 2026 mencapai angka 66,85 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Kinerja ekspor pada periode Maret 2026 tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,62 persen secara bulanan. Peningkatan tersebut didorong oleh lonjakan tajam pada sektor minyak dan gas bumi (migas).

Ekspor nonmigas nasional turut didukung oleh kenaikan signifikan pada sejumlah komoditas logam unggulan. Sektor bijih logam hingga perhiasan mencatatkan pertumbuhan permintaan yang sangat masif dari pasar global.

Permintaan dari mitra dagang utama seperti Hong Kong dan Thailand juga mengalami peningkatan drastis. Ekspor ke wilayah Taiwan tercatat tumbuh sebesar 29,38 persen dibandingkan pada bulan Februari sebelumnya.

Budi menjelaskan bahwa sektor industri pengolahan mendominasi struktur ekspor Indonesia sebesar 82,25 persen. Sektor manufaktur ini terus menunjukkan performa yang sangat tangguh di tengah tantangan global.

“Sepanjang tiga bulan pertama 2026, pertumbuhan ekspor didorong kinerja sektor industri pengolahan naik 3,96 persen (CtC). Atau menjadi USD 54,98 miliar dibandingkan periode Januari-Maret 2025 yang sebesar USD 52,89 miliar,” ujar Budi di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

Kenaikan ekspor tertinggi terjadi pada komoditas nikel beserta barang turunannya yang melonjak 60,60 persen. Produk timah dan aluminium juga memberikan kontribusi besar bagi pundi-pundi devisa negara kita.

Bahan kimia organik serta anorganik turut mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang kuartal pertama tahun ini. Tren harga komoditas global sangat memengaruhi nilai jual produk olahan industri dalam negeri.

Namun demikian, kinerja pada sektor pertanian justru mengalami penurunan cukup dalam sebesar 32,18 persen. Sektor pertambangan dan lainnya juga mencatatkan kontraksi kinerja sebesar 11,17 persen secara tahunan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....