Volume Peti Kemas KAI Naik 14,57 Persen pada Triwulan I 2026

  • 22 Apr 2026 23:36 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Volume angkutan peti kemas KAI melonjak signifikan sebesar 14,57 persen pada Triwulan I tahun 2026 ini.
  • Kereta Api Indonesia berupaya melakukan modernisasi sarana melalui peningkatan kapasitas gerbong kargo menjadi seberat 70 ton.
  • Sektor perkeretaapian menargetkan porsi pangsa pasar pengiriman logistik nasional sebesar 15 persen hingga tahun 2030 kelak.

RRI.CO.ID, Jakarta Kereta Api Indonesia (KAI) melaporkan volume peti kemas mencapai 1.371.036 ton. Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 14,57 persen jika dibandingkan dengan capaian pada periode tahun sebelumnya.

Capaian ini menunjukkan peningkatan signifikan dari volume sebesar 1.196.600 ton yang dibukukan pada Triwulan I 2025. Perusahaan transportasi milik negara tersebut berusaha meningkatkan distribusi kargo demi memenuhi pertumbuhan jumlah penduduk nasional Indonesia.

Kebutuhan pengiriman barang akan terus melonjak tajam menyusul prediksi peningkatan jumlah warga mencapai 281 juta jiwa. Moda angkutan rel kereta api dianggap mampu melayani logistik volume besar dengan sangat terstruktur serta terjadwal.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyebut penguatan sistem logistik berbasis rel adalah solusi nasional. Anne menyatakan bahwa distribusi kargo membutuhkan armada transportasi yang sanggup mengangkut kargo besar secara konsisten dan efisien.

“Dengan volume logistik yang terus meningkat, dibutuhkan moda transportasi yang mampu mengangkut dalam skala besar secara konsisten. Kereta api menjadi salah satu opsi yang dapat dioptimalkan untuk mendukung distribusi nasional yang lebih efisien dan terstruktur,” ujar Anne dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 22 April 2026.

Kinerja ketepatan waktu keberangkatan angkutan barang kini juga menunjukkan kenaikan kualitas operasional hingga mencapai 95,97 persen. Kemudian catatan waktu kedatangan gerbong kargo pun mengalami perkembangan pada level persentase sebanyak 91,77 persen saja.

Realisasi keberangkatan kereta kargo sebelumnya hanya 95,89 persen serta angka ketepatan kedatangan cuma sebesar 87,04 persen. Konsistensi tersebut merupakan faktor utama bagi KAI guna menjaga tingkat kepercayaan terhadap layanan kargo nasional secara teratur.

Operasional kereta api kargo secara bertahap ditingkatkan guna menambah daya tampung gerbong bagi seluruh pengusaha jasa logistik. Saat ini rata-rata daya angkut telah berkembang pesat dari hanya sebesar 50 ton menjadi 70 ton.

Satu rangkaian bahkan sanggup menarik hingga 60 gerbong kereta dengan kapasitas beban total mencapai 4.200 ton kargo. Upaya ini bertujuan memberikan dampak efisiensi distribusi sekaligus membantu upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap angkutan jalan raya.

Biaya logistik nasional terpantau masih sangat tinggi menurut laporan resmi dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. Pihak berwenang menargetkan penggunaan angkutan kargo perkeretaapian harus menyentuh porsi pangsa pasar 15 persen tahun 2030 kelak.

Sektor transportasi rel diharapkan menjadi pilihan utama kegiatan kargo karena mampu mengamankan infrastruktur publik secara maksimal. Kawasan industri maupun pelabuhan perlu segera terintegrasi dengan jaringan kereta demi mendorong percepatan volume pengangkutan peti kemas.

“Ke depan, pengembangan logistik berbasis rel perlu didukung oleh integrasi jaringan, peningkatan kapasitas, serta sinergi dengan berbagai pihak. Dengan langkah tersebut, distribusi barang dapat berjalan lebih efisien dan mampu menjawab kebutuhan ekonomi yang terus berkembang,” ujar Executive Vice President Sekretaris Perusahaan PT KAI Wisnu Pramudya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....