Perkuat Ekspor, Mendag Bidik Potensi Tekstil di Amerika Serikat

  • 16 Apr 2026 22:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Budi Santoso menargetkan peningkatan ekspor tekstil ke Amerika Serikat.
  • Pemerintah memperkuat industri tekstil domestik untuk meningkatkan daya saing sekaligus menekan impor.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menargetkan peningkatan ekspor tekstil menuju pasar Amerika Serikat (AS). Budi menyatakan bahwa Indonesia memiliki banyak perjanjian dagang yang sangat menguntungkan dengan pemerintah Amerika Serikat saat ini.

Ia menyampaikan rencana strategis tersebut saat meninjau pameran industri tekstil berskala internasional di Jakarta Pusat. Menurutnya, posisi Amerika Serikat merupakan mitra dagang utama yang memberikan surplus terbesar bagi devisa negara Indonesia.

"Karena kita mempunyai banyak perjanjian dagang, ya, ada perjanjian dagang dengan Amerika. Dengan Amerika itu, ekspor kita 30 miliar dolar AS, kemudian, surplus kita Rp18,1 miliar, surplus terbesar Indonesia itu ke Amerika," ucap Budi saat ditemui di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Kamis, 16 April 2026.

Pemerintah terus berupaya mengejar peluang pasar di wilayah Amerika Serikat melalui berbagai skema perjanjian perdagangan bebas. Lanjutnya, pangsa pasar ekspor ke negara tersebut menyumbang angka 11 persen dari total ekspor nasional.

"Kita kejar pasar Amerika, makanya kita membuat Free Trade Agreement (FTA) itu karena pangsa pasar kita. Pasar ekspor kita itu 11 persen dari total ekspor kita ke dunia," ujar Budi.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia (RI) juga fokus mengembangkan kekuatan industri tekstil di dalam negeri sendiri. Lanjutnya, langkah ini dilakukan secara serius guna membendung masuknya produk tekstil hasil impor ke pasar domestik.

Budi menilai ekosistem industri tekstil nasional saat ini sudah sangat lengkap mulai dari penyediaan bahan baku. Menurutnya, ketersediaan bahan mentah yang melimpah menjadi modal kuat bagi produsen lokal untuk mengisi pasar nasional.

"Pasar dalam negeri juga cukup besar yang diisi oleh produksi dalam negeri, kalau kita lihat ekosistem tekstil, produk tekstil, sangat bagus, ya. Dari bahan baku, bahan baku kita juga banyak, ya, saya kira ekosistemnya kita paling lengkap," ucap Budi.

Budi mengakui bahwa dinamika ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat memberikan dampak pada industri global. Lanjutnya, industri tekstil tanah air tetap memiliki daya tahan yang kuat untuk menghadapi gejolak ekonomi dunia tersebut.

Ia telah melakukan komunikasi langsung dengan para pelaku usaha tekstil mengenai kemampuan mereka bersaing di kancah internasional. Menurutnya, para pengusaha nasional merasa sangat optimis untuk mengalahkan produk-produk asing yang masuk ke wilayah Indonesia.

"Saya tanya langsung saja tadi, ya. Jadi, bahwa teman-teman justru sanggup berdaya saing, sanggup berkompetisi dengan produk-produk asing," ujar Budi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....