Indonesia Perkuat Pasar Rempah ke Eropa lewat Kerja Sama di Belanda
- 10 Apr 2026 12:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indonesia memperkuat ekspor rempah ke Belanda melalui kerja sama strategis dengan importir lokal.
- Implementasi Indonesia-EU CEPA berpotensi mempermudah akses dan menurunkan tarif ekspor ke pasar Eropa.
- Fokus diarahkan pada peningkatan nilai tambah produk, standardisasi mutu, serta efisiensi rantai pasok agar lebih kompetitif.
RRI.CO.ID, Den Haag - Atase Perdagangan (Atdag) Republik Indonesia (RI) Den Haag Annisa Hapsari terus mendorong perluasan pasar rempah nasional. Ia proaktif menjalin kerja sama strategis dengan importir Belanda untuk meningkatkan nilai ekspor produk pangan dalam negeri.
Sari menjelaskan produk rempah tanah air memiliki potensi ekspansi sangat besar di seluruh kawasan Uni Eropa. Menurutnya, implementasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif nantinya akan mempermudah akses masuk produk Indonesia ke pasar internasional.
“Produk rempah Indonesia memiliki peluang ekspansi yang sangat besar di Eropa. Implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (Indonesia-EU CEPA) nantinya dapat menurunkan tarif dan semakin mempermudah akses pasar,” ujar Sari di Den Haag, Rabu, 8 April 2026.
Sari mengatakan pemerintah berkomitmen penuh memfasilitasi para pelaku usaha domestik guna bermitra dengan pembeli di Belanda. Ia menyebut pendampingan terhadap petani serta koperasi dilakukan mulai dari tahap pengumpulan produk hingga pengembangan usaha.
Lanjutnya, Sari mendukung mitra usaha dalam negeri agar mampu menembus pasar Eropa menggunakan produk yang bernilai tambah. Menurutnya, barang yang dikirim tidak boleh lagi berupa bahan mentah melainkan produk olahan dengan harga kompetitif.
“Kami akan terus mendampingi mitra usaha, termasuk petani dan koperasi melalui penjajakan peluang pengumpulan produk (sourcing). Selain itu juga, pengembangan kerja sama usaha, hingga peningkatan potensi pengolahan produk rempah di Indonesia,” ucap Sari.
Sari menegaskan pentingnya pengawalan mitra dari hulu hingga hilir. Ia berharap produk Indonesia memiliki daya saing kuat sehingga dapat menguasai pasar global secara lebih luas.
Sari menekankan rekam jejak pengumpulan bahan baku oleh perusahaan global membuktikan kualitas produk nusantara sangat dipercaya. Namun, ia mengingatkan para pelaku usaha untuk terus memperkuat kontrol kualitas agar kepercayaan tersebut tetap terjaga.
“Kepercayaan ini harus kita jawab dengan penguatan standardisasi, ketertelusuran (traceability). Dan juga kontrol kualitas (quality control) yang ketat di dalam negeri,” ujar Sari.
Managing Director Unispices Wazaran BV Heykal Balbaid menyatakan perusahaannya sangat terbuka untuk melakukan pembelian langsung. Ia menyebut sistem tersebut bertujuan memangkas rantai pasok agar distribusi produk dari petani Indonesia menjadi lebih singkat.
Heykal juga menjajaki peluang kerja sama patungan dengan mitra lokal untuk memperluas pemasaran di Uni Eropa. Menurutnya, kepastian regulasi serta dukungan insentif akan memicu peningkatan kegiatan pengolahan produk langsung di Indonesia.
“Indonesia memiliki kualitas produk dan ketersediaan bahan baku yang bagus. Agar dapat berdaya saing, produk Indonesia perlu menjaga kestabilan pasokan, standardisasi mutu, dan meningkatkan efisiensi logistik,” ucap Heykal.
Total perdagangan antara Indonesia dan Belanda tercatat mencapai angka 6,58 miliar dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang 2025. Nilai ekspor rempah nasional ke Negeri Kincir Angin tersebut menyumbang sebesar 34,32 juta dolar Amerika Serikat.
Unispices Wazaran BV saat ini telah mengumpulkan bahan baku rempah dan jamur dari Jawa Tengah serta Jawa Timur. Selain itu, perusahaan juga mengembangkan potensi produk ikan tuna unggulan yang berasal dari daerah Sulawesi Utara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....