Indonesia-AS Teken ART, Impor Etanol 1 Juta Kilogram per Tahun
- 21 Feb 2026 13:06 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Washington DC, Jumat, 20 Februari 2026. Kesepakatan tersebut memuat sejumlah ketentuan terkait perdagangan, termasuk pengaturan impor bahan bakar etanol.
Dalam naskah final ART pada Annex III, terdapat tiga komitmen yang disepakati kedua negara tersebut. Salah satunya menegaskan Indonesia tidak diperkenankan menetapkan kebijakan yang menghambat masuknya bioetanol asal Amerika Serikat (AS).
Selain itu, Indonesia juga diwajibkan menyediakan bahan bakar campuran bioetanol lima persen (E5) paling lambat tahun 2028. Pemerintah juga harus menerapkan campuran bioetanol sepuluh persen atau E10 paling lambat pada tahun 2030.
Kemudian pada poin selanjutnya, Indonesia diwajibkan mengupayakan peningkatan hingga E20. Namun, implementasinya tetap mempertimbangkan kesiapan pasokan dan infrastruktur dalam negeri.
Pada Annex IV poin B nomor 2, Indonesia juga diatur untuk memenuhi kuota impor etanol dari Amerika Serikat. Volume impor tersebut ditetapkan dalam jumlah signifikan untuk kebutuhan tahunan.
Dalam dokumen perjanjian disebutkan impor etanol asal Amerika Serikat harus melampaui 1.000 metrik ton (1 juta kilogram) setiap tahun. Ketentuan ini memunculkan perhatian di tengah kebijakan energi nasional.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penerapan campuran bioetanol 20 persen sebelum 2028. Kebijakan itu diarahkan untuk menekan ketergantungan impor bahan bakar di Indonesia.
Bahkan, saat itu pemerintah membuka peluang insentif bagi industri yang membangun fasilitas produksi etanol domestik. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pengembangan campuran etanol perlu kreativitas dan komitmen kuat agar dapat diproduksi di dalam negeri.
"Sampai ayam tumbuh gigi. Kalau kita enggak kreatif untuk melakukan ini (campuran etanol), enggak akan bisa kita dalam negeri semua," katanya.
Di sisi lain, PT Pertamina bersama PT Sinergi Gula Nusantara mulai membangun pabrik bioetanol di kawasan Pabrik Gula Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur. Fasilitas tersebut ditargetkan mampu memproduksi sekitar 30 ribu kiloliter bioetanol per tahun dengan bahan baku berbasis tebu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....