BI : Penjualan Eceran Desember 2025 Diperkirakan Melambat
- 12 Jan 2026 15:44 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Laporan Bank Indonesia (BI) menunjukkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diperkirakan tumbuh 4,4 persen secara tahunan (yoy). Pertumbuhannya melambat dibandingkan realisasi pertumbuhan IPR bulan November 2025 yang tercatat sebesar 6,3 persen.
Kinerja penjualan eceran pada Desember, ditopang pertumbuhan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman dan Tembakau. Kelompok pendukung lainnya adalah Barang Budaya dan Rekreasi serta Bahan Bakar Kendaraan bermotor.
“Tapi secara bulanan, penjualan eceran pada Desember 2025 diprakirakan tumbuh lebih tinggi menjadi 4 persen. Pada November 2025, kinerja penjualan eceran hanya tumbuh 1,5 persen secara bulanan,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dalam pernyataan tertulisnya, Senin (12/1/2026).
Baca Juga: Pasar Tunggu Data Ekonomi, IHSG Dibuka Naik
Baca Juga: Awal Pekan, Rupiah Terus Melemah terhadap Dolar AS
Peningkatan penjualan eceran secara bulanan, utamanya ditopang penjualan kelompok peralatan informasi dan komunikasi serta Barang Budaya dan Rekreasi. Penjualan eceran meningkat juga karena bertepatan dengan Natal dan Tahun Baru.
“Nataru mendorong naiknya permintaan terhadap kelompok Makanan, Minuman dan tembakau serta perlengkapan rumah tangga lainnya. Sehingga ikut mendorong kenaikan Indeks Penjualan Riil secara bulan di bulan Desember,” ucap Ramdan Denny.
Sementara itu, kinerja penjualan eceran atau IPR November 2025 tumbuh 6,3 persen (yoy). Pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan IPR bulan Oktober yang tumbuh 4,3 persen.
Pertumbuhan penjualan eceran bulan November ditopang oleh meningkatnya penjualan kelompok suku cadang dan aksesori, serta makanan, minuman, dan tembakau. Penjualan dari kelompok Budaya dan Rekreasi juga meningkat, sehingga berkontribusi pada pertumbuhan IPR bulan November.
BI juga memprakirakan akan terjadi tekanan terhadap harga (inflasi) pada tiga bulan mendatang, yaitu Februari 2026. Namun akan kembali menurun pada enam bulan berikutnya, di bulan Mei 2026.
Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) pada Februari 2026 kemungkinan sebesar 168,6. Indeksnya lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 163,2.
“Tekanan harga terjadi dibulan Februari karena bertepatan dengan periode Ramadan 1447 H,” ujar Ramdan Denny. Setelah periode Ramadan, IEH akan turun di bulan Mei di level 154,5.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....