PMI Manufaktur Masih Ekspansi Ditopang Momen Idulfitri

  • 09 Apr 2025 13:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Industri manufaktur Indonesia masih berada dalam trend ekpansi, ditandai dengan Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia di level 52,4. Trend positif industri manufaktur juga menunjukkan optimisme terhadap prospek perekonomian Indonesia ke depan.

Lembaga pemeringkat S&P Global dalam laporan bulan Maret 2025 menyebutkan PMI manufaktur Indonesia sebesar 52,4. Indeksnya menurun dibandingkan bulan Februari sebesar 53,6, tapi masih di rentang ekspansi.

“Aktivitas manufaktur yang terus ekspansif didorong oleh pertumbuhan produksi karena peningkatan permintaan. Terutama permintaan domestik pada saat momen Ramadan dan Idulfitri,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, Rabu (9/4/2025).

Baca Juga: Inflasi Maret Capai 1,65 Persen Dipicu Tarif Listrik

Baca Juga: Rupiah Nyaris Menyentuh Rp17 Ribu per Dolar AS

Baca Juga: Tekanan Global Membuat IHSG Masih di Zona Merah

Pertumbuhan produksi, sambung Febrio, juga didorong oleh permintaan ekspor dari negara mitra dagang Indonesia. Hal ini menjadi sinyal positif bagi industri manufaktur Indonesia di tengah perang tarif yang menekan perdagangan global.

“Posisi Indonesia tetap positif dan kompetitif di antara negara mitra dagang utama yang PMI nya juga ekspansi. Seperti Tiongkok (51,2), India (58,1) dan Amerika Serikat (50,2),” ucapnya.

Febrio juga menyebut konsumsi domestik masih akan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi di triwulan I-2025. Sejumlah indikator menunjukkan tingkat konsumsi masih pada level optimis.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2025 berada di level 126,4. Indeks ini mengindikasikan peningkatan keyakinan masyarakat pada kondisi ekonomi saat ini dan ke depan.

Indeks Penjualan Ritel (IPR) tumbuh 0,5 persen secara tahunan, menunjukkan daya beli yang terjaga. Pertumbuhan penjualan ritel ditopang lonjakan penjualan suku cadang dan aksesori otomotif.

“Pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga dan kepercayaan konsumen. Supaya konsumsi masyarakat dapat terus menopang pertumbuhan ekonomi,” kata Febrio menutup pernyataannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....