Harga Jengkol di Kaur Anjlok, Petani Keluhkan Pendapatan

  • 02 Okt 2026 17:08 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bintuhan - Harga jengkol di tingkat petani di Kabupaten Kaur, Bengkulu, pada awal Oktober 2026 mengalami penurunan tajam hingga berada di kisaran Rp5.000 per kilogram. Sebelumnya, petani masih dapat menjual jengkol dengan harga sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram.

Harga jengkol cenderung fluktuatif dan sulit diprediksi karena sangat dipengaruhi oleh siklus musim panen. Selain itu, berbagi faktor termasuk banjirnya hasil penen atau kelangkaan jengkol turut menentukan perubahan harga jengkol di pasaran.

Fluktuasi harga jual jengkol biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya panjangnya rantai pasok sebelum jengkol sampai ke tangan konsumen. Komoditas tersebut umumnya melalui beberapa tahapan, mulai dari petani, pengepul lokal, bandar besar, agen pasar induk, hingga pedagang eceran.

Bagi petani jengkol di Kabupaten Kaur, penurunan harga hingga Rp5.000 per kilogram menjadi persoalan karena hasil penjualan harus menutup biaya pemetikan dan transportasi. Kondisi tersebut membuat sebagian petani memilih menunda pemanenan dan membiarkan jengkol tetap berada di pohon sambil menunggu harga kembali membaik.

Penurunan harga ini turut dikeluhkan masyarakat dan petani lokal karena berdampak langsung terhadap pendapatan mereka. Bagi warga yang mengandalkan hasil kebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, fluktuasi harga jengkol menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika harga jual tidak sebanding dengan biaya produksi dan distribusi.

Bira, salah seorang petani di Kecamatan Kelam Tengah, mengeluhkan kondisi turunnya harga jengkol di tingkat petani saat ini. Meskipun sekarang bukan dalam kondisi panen besar, menurutnya, jika harganya tinggi, hasil panen jengkol dapat dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

“Padahal sekarang hasil penen tidak terlalu banjir dikalangan petani, karena buah yang dihasilkan bukanlah hasil musim besar, tapi harganya anjlok sekali. Ya, hasilnya sedikit harga murah, mending ga di jual, biaralah untuk konsunsi sendiri, paling jualnya eceran kalau ada yang mau beli buat di masak,” tutur Bira,1 oktober 2026.

Petani berharap harga hasil pertanian tersebut dapat lebih stabil dan tidak mengalami penurunan secara drastis. Jika tren harga hasil pertanian terus mengalami penurunan, kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada daya beli masyarakat di pedesaan, sehingga petani berharap pemerintah daerah dapat turun tangan memantau rantai perdagangan agar mereka tidak terus merugi.

"Kami berharap ada intervensi atau solusi dari pihak terkait untuk menjaga stabilitas harga hasil bumi. Setidaknya, harus ada jalur distribusi baru agar komoditas luar daerah bisa menyerap hasil panen dari Kaur," kata Bira.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....