Kerajinan Anyaman, Warisan Leluhur yang Tetap Bernilai Ekonomi

  • 29 Agt 2026 11:19 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bintuhan - Properti anyaman masih menjadi salah satu produk kerajinan yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi bagi sebagian masyarakat Kabupaten Kaur. Ketersediaan bahan baku berupa rotan dan bambu di hutan Kabupaten Kaur membuat sebagian warga memanfaatkannya untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari sekaligus sebagai sumber penghasilan tambahan.

Rudian, salah seorang pengrajin anyaman asal Kabupaten Kaur, mengatakan hingga kini dirinya masih aktif membuat berbagai jenis kerajinan secara manual. Kegiatan tersebut dilakukannya sebagai pekerjaan sampingan selain berkebun untuk mengisi waktu luang sekaligus menambah penghasilan keluarga.

Kegiatan membuat anyaman sebagai pekerjaan sampingan terus ditekuninya hingga sekarang. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan kesabaran, mulai dari menyiapkan bahan rotan atau bambu, membentuk pola, hingga menyelesaikan anyaman agar menghasilkan produk yang kuat, rapi, dan memiliki nilai jual.

Menurut Rudian, anyaman rotan dan bambu memiliki bentuk, ukuran, serta fungsi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam pemasarannya, anyaman rotan dan bambu biasanya dijual secara langsung kepada pembeli karena produksi yang dibuatnya masih dalam skala kecil.

”Membuat anyaman ini hanya pekerjaan sampingan, mengisi waktu luang, pekerjaan utama tetap sebagai petani. Jadi hasil yang kita produksi tidaklah banyak, dijualnya paling ke pasar secara langsung, kadang ada juga yang melakukan pemesanan terlebih dulu,” tutur Rudi.

Sementara itu, salah seorang pembeli kerajinan anyaman, Mudiah, mengatakan dirinya senang menggunakan peralatan berbahan anyaman karena lebih praktis dan ringan untuk dibawa ke berbagai tempat. Menurutnya, masyarakat biasanya menggunakan peralatan anyaman untuk berbagai aktivitas pekerjaan di kebun dan ladang.

“Anyaman rotan ini ringan dan praktis, serta tahan lama, misalnya kinjar atau jaik itu digunakan untuk ke ladang sebagai wadah memetik hasil panen. Ada juga anyaman yang digunakan di rumah seperti niru atau tampa untuk menampi beras, intinya peralatan dari anyaman ini sangat penting dan dicari masyarakat,” tutur Mudiah.

Kerajinan yang terbuat dari anyaman masih menjadi pilihan masyarakat pedesaan untuk digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Namun, keberadaannya mulai sulit ditemukan karena hanya segelintir orang yang masih memiliki keterampilan untuk membuat kerajinan tersebut.

Kerajinan anyaman bukan hanya berfungsi sebagai peralatan untuk menunjang aktivitas sehari-hari masyarakat. Lebih dari itu, kerajinan tersebut merupakan tradisi budaya warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Upaya pelestarian kerajinan anyaman dinilai penting dilakukan agar keterampilan tersebut tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Selain mempertahankan budaya lokal, keberadaan kerajinan anyaman juga dapat menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Kaur melalui pengembangan produk dan pemasaran yang lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....