Tiga Kuliner Legendaris Solo Ini ternyata Aslinya dari Tiongkok
- 21 Jul 2026 07:42 WIB
- Bintuhan
RRI.CO.ID, Bengkulu - Kota Solo di Jawa Tengah tidak hanya terkenal dengan ragam hidangan khas Nusantara yang manis, tetapi juga menyimpan jejak akulturasi budaya Tionghoa yang begitu kuat. Tak banyak yang menyangka bahwa tiga kuliner legendaris khas Surakarta ini sebenarnya berakar dari resep tradisional masyarakat Tiongkok.
Hidangan pertama yang sangat populer di Kota Solo adalah timlo, yakni sup berkuah bening segar dengan isian sosis solo, telur pindang, dan suwiran ayam.Menurut sejarawan Surakarta Heri Priyatmoko, kuliner ini terinspirasi dari sup kimlo yang berasal dari tradisi masyarakat Tionghoa.
Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan fonetik pelafalan dari kimlo menjadi timlo akibat penyesuaian dialek masyarakat Jawa. Bahan-bahannya pun berakulturasi dengan citra rasa lokal, seperti penggunaan sosis ala Solo dan penyesuaian kaldu ayam lokal.
Kuliner legendaris kedua yang tak kalah tersohor adalah tahok, yakni olahan kembang tahu sutra lembut yang disiram kuah jahe gula merah hangat. Panganan ini sejatinya berasal dari Tiongkok dengan nama tao hue atau douhua yang dibawa oleh para imigran Tionghoa ke kawasan Pasar Gede Solo.
Salah satu kedai tahok paling ikonik di Kota Solo adalah Tahok Pak Citro yang sudah berjualan di sekitar Pasar Gede sejak tahun 1968. Kudapan ini tetap digemari hingga kini karena teksturnya yang lumer di lidah serta khasiat kuah rempahnya yang menghangatkan tubuh.
Kuliner ketiga yang sangat melegenda di Kota Surakarta adalah bakmi, baik yang diolah secara goreng maupun godog (rebus) menggunakan anglo arang. Istilah bakmi berasal dari dialek Hokkien, yakni bak (daging) dan mie (olahan tepung), yang kemudian disesuaikan dengan selera serta bahan-bahan bumbu Jawa.
Keberadaan ketiga hidangan ini menjadi bukti nyata kekayaan warisan budaya serta harmonisasi sejarah antara etnis Tionghoa dan Jawa di Surakarta. Catatan sejarah resep ini antara lain terdokumentasikan dalam buku resep klasik Poetri Dapoer (1941) serta penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....