Kiat Semangat Pasca Mengalami Trauma.

  • 29 Agt 2026 06:26 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bintuhan- Masa pemulihan setelah sakit atau mengalami peristiwa traumatis tidak selalu berjalan cepat, karena kondisi fisik dan mental setiap orang berbeda. Rasa lelah, sedih, cemas, kehilangan motivasi, hingga sulit berkonsentrasi dapat muncul selama proses pemulihan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sebagian besar orang yang mengalami peristiwa berpotensi traumatis dapat pulih secara alami seiring waktu. WHO juga menegaskan bahwa dukungan dari keluarga, teman, atau orang lain setelah peristiwa traumatis dapat membantu menurunkan risiko gangguan stres pascatrauma atau PTSD.

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memberikan kesempatan kepada tubuh dan pikiran untuk beristirahat tanpa memaksakan diri segera kembali seperti sebelum sakit atau mengalami trauma. Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), menjaga rutinitas makan, tidur, dan aktivitas fisik secara bertahap termasuk cara sehat untuk membantu menghadapi dampak setelah trauma.

Membangun kembali rutinitas sederhana juga dapat membantu seseorang mendapatkan rasa teratur dalam menjalani hari. WHO merekomendasikan mempertahankan rutinitas harian sejauh yang memungkinkan, menjaga pola tidur, berolahraga secara teratur termasuk berjalan kaki, serta mempelajari teknik pengelolaan stres seperti latihan pernapasan.

Berbicara dengan orang yang dipercaya menjadi langkah lain yang dapat dilakukan ketika seseorang merasa berat menjalani masa pemulihan seorang diri. WHO menyarankan seseorang terhubung dan berbicara dengan orang yang dipercaya mengenai apa yang dialaminya, tetapi pembicaraan tersebut sebaiknya dilakukan ketika orang tersebut sudah merasa siap.

Selain itu, menetapkan target kecil dan realistis dapat membantu proses kembali beraktivitas tanpa memberikan tekanan berlebihan kepada diri sendiri. NIMH menyarankan agar seseorang menetapkan tujuan yang realistis dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang masih dapat dikendalikan selama menghadapi dampak peristiwa traumatis.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa meminta bantuan bukan berarti seseorang gagal menghadapi masalahnya sendiri. NIMH menjelaskan bahwa bantuan profesional perlu dipertimbangkan apabila gejala tidak membaik seiring waktu atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, termasuk ketika muncul kilas balik, gangguan tidur, kecemasan berat, atau kecenderungan mengisolasi diri.

WHO menegaskan bahwa gangguan stres pascatrauma memiliki penanganan yang efektif, termasuk intervensi psikologis berbasis bukti. Karena itu, seseorang yang mengalami kesulitan berkepanjangan setelah sakit atau trauma sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan dukungan sesuai kondisi dan kebutuhannya.

Sumber: World Health Organization (WHO) dan National Institute of Mental Health (NIMH), National Institutes of Health (NIH).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....