Lomba Makan Kerupuk, Tradisi 17 Agustus yang Penuh Makna Sejarah

  • 11 Agt 2026 07:34 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bintuhan - Lomba makan kerupuk menjadi salah satu perlombaan yang paling identik dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Perlombaan ini hampir selalu hadir dalam berbagai kegiatan peringatan 17 Agustus, mulai dari lingkungan perkampungan hingga perkantoran.

Dalam pelaksanaannya, sejumlah kerupuk digantung menggunakan tali dan peserta harus menghabiskannya tanpa bantuan tangan. Siapa yang paling cepat menghabiskan kerupuk akan keluar sebagai pemenang.

Di balik keseruan yang dihadirkan, lomba makan kerupuk ternyata memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perjalanan bangsa Indonesia. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga mengandung pesan tentang perjuangan dan ketahanan masyarakat pada masa lalu.

Mengutip unggahan resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), kerupuk merupakan salah satu makanan pelengkap yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia sejak era 1930-an hingga 1940-an. Pada masa itu, kondisi ekonomi yang sulit membuat harga kebutuhan pokok meningkat sehingga tidak semua masyarakat mampu membeli bahan pangan yang memadai.

Situasi tersebut menjadikan kerupuk sebagai salah satu makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat karena harganya relatif murah dan mudah diperoleh. Bagi sebagian kalangan, kerupuk bahkan menjadi pelengkap makanan yang membantu mereka bertahan di tengah keterbatasan ekonomi.

Seiring berjalannya waktu, berbagai perlombaan mulai digelar untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan Indonesia pada era 1950-an. Kerupuk kemudian dipilih sebagai salah satu media perlombaan karena dianggap dekat dengan kehidupan masyarakat saat itu.

Sejarawan kuliner Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, mengatakan berbagai perlombaan rakyat mulai berkembang setelah kondisi politik dan keamanan Indonesia berangsur stabil pascakemerdekaan. Menurutnya, masyarakat sebelumnya lebih fokus mempertahankan kemerdekaan dibanding menggelar perayaan.

“Pada masa agresi militer hingga awal 1950-an, masyarakat masih berjuang mempertahankan kemerdekaan. Setelah kondisi lebih kondusif, berbagai bentuk hiburan rakyat mulai berkembang, termasuk perlombaan kemerdekaan,” ujar Fadly Rahman.

Sejumlah catatan sejarah juga menyebut Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, mendukung kegiatan hiburan rakyat sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan. Berbagai perlombaan dianggap dapat memperkuat rasa persatuan sekaligus menjadi sarana rekreasi masyarakat.

Kerupuk dipilih karena memiliki kedekatan dengan kehidupan rakyat kecil pada masa itu. Makanan tersebut menjadi simbol kesederhanaan sekaligus menggambarkan daya juang masyarakat yang mampu bertahan di tengah berbagai keterbatasan.

Selain memiliki nilai sejarah, lomba makan kerupuk juga mengandung filosofi perjuangan. Para peserta harus berusaha menghabiskan kerupuk yang digantung tanpa bantuan tangan, sehingga membutuhkan kesabaran, strategi, dan kegigihan.

Nilai tersebut kerap dimaknai sebagai simbol perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Seperti halnya peserta lomba yang menghadapi berbagai tantangan, para pejuang juga harus menghadapi berbagai rintangan demi mencapai kemerdekaan.

Hingga kini, lomba makan kerupuk tetap menjadi salah satu tradisi yang paling diminati dalam perayaan HUT RI. Selain menghadirkan hiburan, perlombaan ini juga menjadi pengingat akan semangat juang dan ketangguhan masyarakat Indonesia dalam menghadapi masa-masa sulit.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....