Telur Lokal Perkuat Gizi Siswa Biak Numfor lewat MBG

  • 25 Feb 2026 14:35 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak — Sebutir telur mungkin terlihat sederhana. Namun di Kabupaten Biak Numfor, ia menjadi bagian penting dalam perjalanan besar pemenuhan gizi anak-anak sekolah melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Telur dikenal sebagai sumber protein hewani yang lengkap,

Di dalamnya terdapat protein berkualitas tinggi, lemak sehat, vitamin A, D, E, B12, serta zat besi dan kalsium yang mendukung pertumbuhan. Bagi anak usia sekolah, asupan ini bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi bagi konsentrasi dan daya tahan tubuh.

Secara nasional, MBG diproyeksikan membutuhkan sekitar 82,9 juta butir telur per hari pada 2026 untuk menjangkau 82,9 juta penerima manfaat. Angka besar itu menuntut tambahan jutaan ayam petelur dan ribuan peternak baru agar pasokan dan harga tetap stabil.

Di Wapnor, Distrik Biak Kota, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wapnor, menjadi salah satu simpul kecil dari gerakan besar tersebut. Kepala SPPG Wapnor, Yuanita Kristiani, menuturkan sejak September hingga Februari pihaknya rutin menyerap telur dari peternak lokal.

“Ada juga protein hewani. Nah, protein hewani ini kita biasa ambil di lokal adalah telur. Nah, telur ini kita alhamdulillah dapat dan bisa disuplai ke penerima manfaat, dan ini sudah berjalan kalau di dapur Wapnor atau SPPG Wapnor sendiri dari September hingga Februari ini, alhamdulillah kita selalu ambil dari peternak lokal, namun ini kita tidak sesering itu menggunakan telur. Karena apa? Kita juga membagi penggunaan telur difokuskan di menu kering. Dikarenakan di dalam menu kering selain ada serat, ada karbohidrat, kita juga harus mengisi dengan protein hewani,” ujarnya, Rabu 25 Februari 2026.

Menu kering yang disiapkan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wapnor,

Di dapur itu, telur rebus menjadi pilihan utama untuk menu kering. Selain praktis, telur rebus lebih tahan hingga sampai ke tangan siswa. Namun penggunaan telur tetap diperhitungkan. SPPG tidak ingin menyerap seluruh stok pasar, mengingat masyarakat juga membutuhkan komoditas yang sama.

Kehadiran telur juga dirasakan langsung di lingkungan sekolah. Kepala SMP Negeri 2 Biak, Suarmi Madjid, S.Pd, menyebut telur rutin hadir minimal sekali dalam sepekan, terutama setiap Sabtu.

“Terima kasih. Selain makanan basah, juga kadang-kadang ada menu telur. Juga untuk makanan kering, itu sudah rutin. Setiap minggu itu minimal sekali. Utamanya untuk hari Sabtu, itu pasti ada telur. Termasuk bulan Ramadan ini, kebetulan ada dua menu. Ada menu basah, ada menu kering. Untuk yang Muslim, mendapatkan menu kering. Salah satu di dalamnya itu telur rebus,” jelasnya.

Kepala SMP Negeri 2 Biak, Suarmi Madjid, S.Pd,

Pada bulan Ramadan, menu kering yang dibagikan kepada siswa Muslim berisi telur rebus, buah, susu, serta kue atau biskuit—bekal sederhana untuk berbuka puasa.

Di sisi lain, Arif, seorang penjual telur di jalan sisingamangaraja , menyaksikan perubahan dari balik lapaknya. Ia mengakui, kadang pihak MBG mengambil langsung dari peternak.

“Untuk MBG, kadang mereka langsung ambil dari peternak langsung. Itu berdampak juga ke sini, nanti distribusi dari peternak ke sini juga berkurang,” ujarnya.

Meski demikian, ia memahami bahwa langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung produksi lokal agar peternak tetap bertahan dan berkembang.

Telur menjelma lebih dari sekadar bahan makanan. Ia menjadi penghubung antara peternak, pedagang, dapur gizi, dan siswa. Dalam setiap butir yang dibagikan, terselip harapan tentang generasi yang tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan lebih siap menatap masa depan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita